Pencarian :

Artikel • Detail Artikel

Berdamai dengan Game Online

Tanggal diterbitkan: 29/09/2017


Banyak orang tua mengurut dada, melihat anaknya “kecanduan” bermain game online. Sang anak jadi tidak mengenal waktu, mudah melawan dan tak jarang jadi bolos sekolah. Lebih parah lagi, game online ini disinyalir menjadi pemicu kekerasan, karena beberapa menyajikan adegan pembunuhan. Membuat otak anak menerima, perbuatah keji tersebut menjadi hal yang “sah” untuk dilakukan.

Apa yang menyebabkan anak keranjingan memainkan game online? Berdasarkan beberapa artikel parenting, umumnya anak yang sangat aktif di dunia online adalah mereka yang tidak memiliki “pengakuan” di dunia nyata. Seorang pakar pendidikan menyebutkan, game online “memanusiakan” anak-anak kita. Ya, disaat mereka mendapati ketidakramahan di dunia nyata, tidak mendapat penerimaan atas kekurangannya. Game online dengan sabar mengajak pemain : “Coba Lagi”  jika melakukan kegagalan.

Apa yang anak-anak dapatkan di dunia nyata? Saat mereka hadapi kegagalan, tak jarang orang tua memarahi habis-habisan. Melalui game online anak merasa mendapatkan pengakuan. Bagaimana dengan kenyataan di keseharian? Anak-anak sering diabaikan pendapatnya dan keberadaannya. Perhatikanlah bagaimana di game online mereka bisa menjadi hero sementara di kenyataan seringkali hanyalah menjadi pecundang.

Di era teknologi seperti saat ini, keberadaan game online menjadi hal yang tidak bisa kita hindarkan. Ia bisa menjadi pilihan untuk refresh saat anak-anak merasa lelah dengan aktifitas kesehariannya di sekolah. Jika mau jujur, selaku orang tua pun kita memiliki media lain untuk refresh, misalnya dengan melakukan aktivitas di media sosial.

Lantas apa yang dapat kita lakukan untuk membendung dampak negatif dari keberadaan game online? Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah amati game yang dimainkan anak. Cari tahu melalui internet, apakah game tersebut bermuatan kekerasan dan pornografi? Kedua, atur waktu anak bermain game. Biasanya pada anak yang sulit diatur karena orang tua sedari awal tidak memberikan rambu-rambu. Ketiga, sempatkan beraktifitas bersama anak. Seringkali yang terjadi adalah orang tua asyik dangan kegiatannya dan membekali anak dengan HP agar “anteng”. Akibatnya sedari kecil anak sudah terbiasa lebih intens berinteraksi dengan game di HP daripada orangtua.

Melarang anak untuk berkenalan dengan teknologi bukanlah pilihan yang tepat.Terkecuali sang Ibu atau Ayah adalah sosok orang yang tak pernah gunakan gadget dalam hidupnya. Daripada anak bermain ke rumah teman atau warnet yang tidak bisa kita awasi, lebih baik beri kesempatan anak untuk refresh dengan bermain game, tentu dengan aturan yang disepakati.

Berdamai dengan game online memiliki arti bahwa keberadaannya lahir sebagai akibat kemajuan di bidang TIK. Berdamai dengan game online adalah menyadari bahwa masih ada banyak game yang menyajikan unsur positif dan bisa menstimulasi kecerdasan anak. Berdamai dengan game online berarti menyadari ada yang salah dalam cara kita berinteraksi dan mendidik anak. Yuk, mulai sekarang perlakukan anak sebagaimana game online memanusiakan mereka. Setuju? (AH)

Kegiatan Cimahi

Headline News