Pencarian :

Artikel • Detail Artikel

Menyambut Malam Nuzulul Qur’an

Tanggal diterbitkan: 31/05/2018


Nuzulul Qur’an secara harfiah berarti turunnya Al Qur’an (kitab suci agama Islam) adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting penurunan wahyu Allah pertama kepada Nabi dan Rasul terakhir agama Islam yakni Nabi Muhammad SAW.

Dalam pembahasan Nuzulul Qur’an menurut Berbagai Madzab kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an diturunkan ke Baitul Izzah secara langsung. Dari Baitul Izzah itulah, Al-Qur’an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW.

Al-Qur’an tidak hanya disajikan untuk satu bangsa saja atau untuk satu masa saja melainkan untuk seluruh umat manusia sepanjang masa yang ajarannya mencakup segala persoalan hidup dan kehidupan manusia serta sanggup menyelesaikan berbagai problema dengan adil dan bijaksana, baik yang menyangkut individu maupun masyarakat dan sanggup membawa manusia ke aqidah dan akhlakul karimah serta kebebasan berfikir yang benar.

Pernyataan atas keistimewaan Al-Quran dan kesempurnaanya,baik dilihat dari segi keindahan bahasa atau kedalaman isinya,tidak hanya diungkapkan oleh cendekiawan muslim,melainkan disampaikan juga oleh cendekiawan barat seperti James A. Michener, Harry Gaylard Dorman dan John William Draper.

Oleh sebab itu sebagai rasa ta’dhim atau rasa hormat terhadap Al-Qur’an, umat islam setiap tanggal 17 Ramadhan senantiasa memperingatinya. Peringatan Nuzulul Qur’an bukan hal yang baru karena peringatan Nuzulul Qur’an ini telah berlangsung sejak dulu. Maka kita selaku umat Islam yang hidup di era informasi dan globalisasi sudah sepantasnya memikirkan hikmah yang tersurat dan tersirat dari peringatan Nuzulul Qur’an.

Nuzulul Qur’an yang kemudian diperingati oleh sebagian kaum muslimin mengacu kepada tanggal pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW di gua Hira. Sebagian besar umat Islam di Indonesia meyakini 17 Ramadhan sebagai tanggal Nuzulul Qur’an. 

Nuzulul Qur’an dalam arti turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW secara bertahap atau berangsur-angsur itu memiliki beberapa hikmah sebagai berikut:

Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat
Dakwah Rasulullah saw pada era makkiyah penuh dengan celaan, cemoohan, siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun secara bertahap dari waktu ke waktu menguatkan hati Rasulullah Saw dalam menapaki jalan yang sulit dan terjal itu.

Ketika kekejaman Quraisy semakin menjadi, Al-Qur’an menyuruh mereka bersabar seraya menceritakan kisah para nabi sebelumnya yang pada akhirnya memperoleh kemenangan dakwah. Di era madaniyah, hikmah ini juga terus berlangsung. Ketika hendak menghadapi perang atau kesulitan, Al-Qur’an turun menguatkan Rasulullah Saw dan kaum muslimin generasi pertama.

Mukjizat
Orang-orang musyrik yang berada dalam kesesatan tidak henti-hentinya berupaya melemahkan kaum muslimin. Mereka sering mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dengan maksud melemahkan kaum muslimin. Pada saat itulah, kaum muslimin ditolong oleh Allah swt dengan jawaban langsung dari-Nya melalui wahyu yang turun. 

Walaupun Al-Quran turun berangsur-angsur, mereka orang-orang kafir tidak mampu menjawab tantangan itu. Ini sekaligus menjadi bukti mukjizat Al-Qur’an yang tak tertandingi oleh siapapun.

Memudahkan Pemahaman dan Hafalan 
Dengan turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, maka para kaum muslimin menjadi lebih mudah menghafalkan dan memahaminya. Terlebih, ketika ayat itu turun dengan latar belakang peristiwa tertentu atau yang diistilahkan dengan asbabun nuzul, maka semakin kuatlah pemahaman para sahabat.

Relevan dengan Pentahapan Hukum
Interaksi para shahabat Rasulullah Saw dengan Al-Qur’an bagaikan para prajurit yang mendengar intruksi komandannya, langsung dikerjakan segera. Diantara hal yang memudahkan bersegeranya para sahabat dalam menjalankan perintah Al-Qur’an adalah karena Al-Qur’an turun secara bertahap.

Perubahan terhadap kebiasaan atau budaya yang mengakar di masyarakat Arab pun dilakukan melalui pentahapan hukum yang memungkinkan dilakukan karena turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur ini.

Menguatkan bahwa Al-Qur’an yakin dari Allah SWT
Ketika Al-Qur’an turun berangsur-angsur dalam kurun lebih dari 22 tahun, kemudian menjadi rangkaian yang sangat cermat dan penuh makna, indah dan fasih gaya bahasanya, terjalin antara satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di dalamnya, semakin menguatkan bahwa Al-Qur’an benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

Adapun hikmah yang dapat di petik oleh kaum Muslimin dari setiap peringatan Nuzulul Qur’an diantaranya dapat disimak di bawah ini :
1) Dengan memperingati Nuzulul Qur’an meyakini bahwa seluruh ayat dan makna Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammas SAW sebagai bukti nyata atas kenabian dan kerasulannya.

2) Dengan memperingati Nuzulul Qur’an bahwa membacanya serta menjadikan Al-Qur’an sebagai salah satu sumber bacaan yang pertama dan utama. Seiring dengan itu Nabi Muhammad bersabda: Barang siapa membaca satu hurup dari Al-qur’an maka ia akan mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan.

3) Dengan memperingati Nuzulul Qur’an, bahwa kita harus menghayati serta mengkaji secara sungguh-sungguh terhadap kandungan Al-Qur’an. Sebab salah satu tujuan Al-Qur’an diturunkan adalah sebagai sumber hidayah dan petunjuk bagi manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Jatsiyah ayat 20: Artinya ”Al-Qur’an adalah pedoman bagi manusia,petunjuk dan rahmat bagi kaum yang berfikir”.

Dengan demikian, maka bagi yang rajin membaca, mendengarkan bacaannya, mentadaburi isinya dan mentafakuri kandungannya dengan penuh kesungguhan ikhlas untuk beribadah ke hadirat-Nya, maka Allah Swt akan memelihara imannya sehingga terjaga hati dan jiwanya dari kecenderungan kepada kekafiran di dalam segala bentuknya.

4) Dengan memperingati Nuzulul Qur’an, mari kita wujudkan, praktekkan ajaran-ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, sebab yang termasuk di dalam Al-Qur’an bukanlah sekedar ilmu dan pengetahuan, melainkan  nilai-nilai tentang hidup dan kehidupan yang menuntut kepada pengamalannya. Sudah tentu untuk merealisasikan ajaran Al-Quran ini banyak hambatan dan tantangannya,maka kesabaran merupakan salah satu kunci untuk dapat melaksanakannya,sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Insan ayat 24 : Artinya: ”Bersabarlah engkau didalam menjalankan hukum dari Tuhanmu dan janganlah engkau mengikuti orang berdosa dan yang kufur”.

Wallahu ‘a’lam (AH)

image source: https://www.flickr.com/photos/aeab/3860463653

Kegiatan Cimahi

Headline News