Pencarian :

Artikel • Detail Artikel

Anak Keras Kepala, Bagaimana Menghadapinya?

Tanggal diterbitkan: 28/06/2018


Anak adalah rezeki bagi setiap orang tua. Betapa bahagia ketika rezeki itu hadir ke dunia. Tawanya, tangisnya, dan segala hal tentang anak menjadikan orang tua bahagia. Tak heran jika ada suami istri yang rela merogoh saku dalam-dalam demi memiliki anak, untuk berkonsultasi ke dokter kandungan hingga menjalani proses bayi tabung. 

Sebaliknya, terkadang ada orang tua yang sudah diberi rezeki berupa anak, tetapi banyak mengeluh, terutama ketika anak rewel, menangis, dan keras kepala. Padahal, itu merupakan fase-fase yang akan ada pada setiap anak. Dari fase itulah karakteristik anak dibentuk. Jadi, penanganan orang tua berpengaruh sifat yang dimiliki oleh anak di masa depan. 

Seperti keras kepala pada anak, Anda sebagai orang tua tidak bisa begitu saja menyalahkan dan menghukum anak. Tahukah Anda, keras kepala tersebut bisa saja disebabkan oleh Anda sendiri. Anak bagaikan spons yang sangat kuat. Setiap hal yang terjadi di sekelilingnya akan diserap dengan cepat. Selain it,u anak juga belum membedakan mana yang benar dan tidak, serta dampak dari hal yang dilakukannya terhadap sekitar. Mereka melakukan suatu hal karena rasa ingin tahu atau hanya karena ingin melakukannya saja. 

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk menghadapi anak keras kepala adalah sebagai berikut:

  1. Hindari memaksakan kehendak kepada anak. Hal itu justru malah akan membuatnya semakin keras kepala. Cobalah dengan memberikan pilihan yang bisa diambil anak tanpa terlihat mendikte. Perlu perjuangan dan kesabaran, memang. Namun, ini adalah anak Anda, buah hati kesayangan. Anda pasti akan melakukan apa pun demi kebaikannya, bukan?

  2. Walaupun dengan alasan agar anak tidak tambah keras kepala, menuruti semua kemauan anak tetaplah salah. Sebenarnya, tindakan tersebut malah akan menambah sifat kurang baik pada anak, yaitu manja. Pada awalnya, sifat tersebut memang tidak akan terlalu menyusahkan. Namun, dengan semakin besarnya anak, keinginannya akan lebih besar juga dan susah untuk dilarang karena kebiasaan yang Anda bentuk sendiri. 

  3. Hindari mempermalukannya di depan umum. Anak-anak juga sudah  memiliki ego sendiri. Ia akan merasa malu jika Anda menegurnya dengan keras atau bahkan memarahinya di depan teman-temannya. Cobalah untuk mengoreksinya dengan suara lembut, tapi tetap tegas. Atau lakukan dengan sedikit rahasia, sehingga teman-temannya tidak tahu. Mempermalukan anak di depan umum malah menjadi pemicu anak keras kepala sebagai cara untuk menutupi kesalahannya dan bisa mendatangkan trauma tersendiri bagi anak. 

  4. Say big no pada hukuman fisik. Terkadang, orang tua salah mengartikan mendisiplinakan anak dengan pendidikan keras. Padahal, kekerasan fisik pada anak, selain menaikkan tingkat keras kepala, juga bisa meninggalkan trauma psikologis. Sudah saatnya orang tua mengganti cara disiplin seperti itu dengan disiplin yang lembut tapi tetap mendidik. Ada kok caranya.

  5. Stop sedikit-sedikit bilang “jangan”. Terkadang, insting orang tua terlalu kuat jika berhubungan dengan anak. Akibatnya, untuk melindungi anak, terlampau banyak kata “jangan” yang dikeluarkan, bahkan untuk hal kecil sekalipun. Padahal, anak seharusnya banyak bereksplorasi dengan sekitarnya. Rasa penasaran anak  akan bertambah tinggi ketika Anda justru melarangnya. Kadang, anak sampai berbohong demi memuaskan rasa penasarannya. Biarkan anak bereksplorasi dengan bebas. Berikan batasan dan larangan jika memang kegiatannya membahayakan bagi diri dan sekitarnya.

Dari kesemuanya, hal terpenting adalah kembali kepada Anda sebagai orang tua. Berikan contoh perilaku terbaik di hadapan anak. Bagaimanapun, anak adalah kertas putih suci yang akan menyesuaikan dengan goresan yang kita toreh di atasnya. (AH)

image source: http://1.bp.blogspot.com/-C8uVNcmCB0k/Ukk23PaCbkI/AAAAAAAABGk/VaxPZrzi4d0/s1600/keras+kepala.jpg

Kegiatan Cimahi

Headline News