Pencarian :

Artikel • Detail Artikel

Persahabatan Yang Baik

Tanggal diterbitkan: 10/12/2018


Berteman atau bersahabat adalah merupakan perilaku kehidupan sosial yang bisa memengaruhi keadaan seseorang dalam karakter kehidupannya. Jika persahabatannya dengan sahabat yang baik, maka ia akan ada banyak ilmu, hikmah, dan manfaat yang bisa dipetik. Lain halnya jika salah cara dan sosok bertemannya maka percikan kesalahan itu juga akan menimpa kepadanya.

Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena salah dalam memilih teman. Tetapi tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak mendapatkan kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shaleh di sekelilingnya.

Dalam sebuah hadits, Rasululah Saw senantiasa mengingatkan, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengandung makna bahwa paling tidak ada dua kemungkinan jika bersahabat atau berteman dengan teman yang baik. Pertama, kita akan menjadi baik atau minimal kita mendapati kebaikan teman kita. Kedua, kita akan terbawa kepada keburukan dan kejahatan manakala kita bersahabat dan berteman dengan sosok durjana dan durhaka.

Dalam hal ini, kita perlu mengenali bentuk-bentuk persahabatan.

Pertama, ta'arufan, persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di dalam Bis, fasilitas umum, fasislitas sosial, dan lainnya.

Kedua, taariikhan, persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya, teman sekampung, satu almamater, pernah kos bersama, diklat bersama, belajar bersama dan sebagainya.

Ketiga, ahammiyyatan, persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, dan sebagainya.

Keempat, faarihan, persahabatan yang terjalin karena faktor hobi, seperti teman futsal, badminton, main golf, memancing, haicking dan sebagainya.

Kelima, amalan persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya, sama-sama guru, dokter, dan sebagainya.

Keenam, aduwwan, sahabat tetapi musuh, di depan seolah baik, tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, dan mengincar kejatuhan sahabatnya, “Bila kamu memperoleh nikmat, ia benci, bila kamu tertimpa musibah, ia senang …” (QS Ali Imran : 120).

Ketujuh, hubban iimaanan, sebuah ikatan persahabatan yang lahir batin, tulus saling cinta dan sayang karena Allah, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam di penghujung malam ia doakan sahabatnya. Boleh jadi, ia tidak bertemu, tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Swt.

Dari ketujuh macam persahabatan ini, persahabatan pertama sampai enam akan sirna saat di Akhirat. Hanya satu yang tersisa, persahabatan model ketujuh. Persahabatan yang dilakukan karena Allah Swt (QS al-Hujurat : 10), “Teman-teman akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain kecuali persahabatan karena Ketakwaan.” (QS az-Zukhruf : 67). Semoga, dunia akhirat kita dipersahabatkan karena Allah. Aaamiiinn. (AH)

image source: https://www.ted.com/playlists/244/on_friendship

Kegiatan Cimahi

Headline News