Pencarian :

Berita • Detail Berita

Jumlah Anak Stunting di Cimahi Capai 27,78%

2018-08-04 01:21:20

CIMAHI - Anak stunting atau berperawakan pendek masih menjadi permasalahan di Kota Cimahi. Bukan sebatas tinggu tubuh yang kurang, melainkan berat badan pun kurang.

Untuk itu, status stunting di Kota Cimahi disebut aku kronis.  Selama tahun 2017, Dinas Kesehatan Kota Cimahi mencatat, anak stunting di Cimahi mencapai 7.965 atau 27,78% anak.

Data tersebut terbagi ke dalam dua jenis usia stunting. Yakni anak stunting Bawa Dua Tahun (Baduta) yang mencapai 1.799 atau 12,04% anak dan stunting usia Bawah Lima Tahun (Balita) yang mencapai 6.166 atau 15,74% anak.

Stuntung merupakan pertanda si anak telah mengalami kekurangan gizi kronis. Terutama pada masa 1.000 hari kehidupannya, terhidung sejak masa janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Fitriani Manan menjelaskan, status gizi dua tahun pertama kehidupan itu harus benar-benar terjaga. Sebab, usia kandungan hingga dua tahu kehidupan merupakan masa pertumbuhan dan sebagainya.

"Kan dua tahun pertama kehidupan itu si anak biasanya masanya bisa jalan, bisa ngomong. Jadi gizinya harus maksimal," kata Fitriani saat ditemui di Pemkot Cimahi, Jln. Rd. Hardjakusumah, Rabu (1/8/2018).

Sebetulnya, kata Fitriani, kasus stunting pada anak bisa diantisipasi. Terutama saat masa kehamilan, si anak lahir hingga anak berusia dua tahun.

Khusus antisipasi dari Dinas Kesehatan Kota Cimahi, lanjut dia, pihaknya kerap melakukan antisipasi sejak remaja. Dikatakannya, sejak remaja, pihaknya sudah menyiapkan kaum perempuan untuk menjadi seorang ibu.

Di antaranya dengan program tablet tambah darah untuk semua remaja putri SMP/SMA. Sebab, kata Fitriani, berdasarkan hasil survey, remaja putri di Kota Cimahi banyak yang mengalami anemia.

"Awalnya anemia, kalau dibiarkan pada saat sudah menikah, hamil biasanya ada hemodilusinya turun lagi. Akibatnya anaknya bisa berat lahir rendah, nanti pertumbuannya lebih kecil," jelas Fitriani.

Kemudian, terang Fitriani, saat masa kehamilan, ibu hamils harus dilakukan pemantauan dan pemeriksaan selama sembilan bulan masa kehamilan. Termasuk pemberian gizi.

Aturannya minimalnya, wanita hamil harus dilakukan pemeriksaan selama empat kali selama masa kehamilan.
"Diperiksanya itu 3 (tiga) bulan pertama sekali, 3 (tiga) bulan kedua sekali dan 3 (tiga) bulan ketiga 2 (dua) kali. Itu minimal sekali, harusnya lebih sering," ungkapnya.

"Selama kehamilan pertama itu diperiksa berat badan, tensi. Terus kita pantau. Kalau kurang gizi, kita tambahan makanan bergizi," tambah Fitriani.

Kemudian setelah lahir, bayi itu tetap harus kontak dengan tenaga kesehatan. Minimalnya selama 28 hari sejak pertama lahir. Bayi harus diimunisasi minimalnya delapan kali.

"Setiap bulan harus ke Posyandu. Bayinya minimal 8 (delapan) kali diimunisasi," tandasnya. (FB)

Kegiatan Cimahi

Headline News