Perdebatan mengenai pilihan menjadi ibu rumah tangga tulen atau merangkap sebagai wanita karier setelah menikah memang kerap menimbulkan dilema. Apalagi jika dilihat begitu banyak perempuan yang eksis di berbagai kancah kehidupan, dari mulai bisnis, berbagai profesi, aktifis politik, pemerintahan, dan lainnya.
Banyak faktor yang mendorong mereka memilih untuk tetap berkarier setelah menikah, di antaranya:
1) Dari sisi ekonomi, ada keinginan membantu suami memenuhi kebutuhan hidup yang kian tinggi. Bisa juga karena suami sedang dalam keadaan tidak mampu bekerja secara optimal, misalnya karena sakit yang lama, cacat, lumpuh, dan sebagainya. Lalum istri pun berusaha menggantikan peran suami sebagai pencari nafkah
2) Secara psikologis, ada semacam perasaan takut kehilangan identitas diri. Sebelum menikah, mungkin seorang perempuan terbiasa aktif bergaul, berorganisasi, bahkan sudah bekerja tanpa ada tuntutan apa pun. Namun setelah menikah, semua terasa berubah. Ia menjadi lebih banyak di rumah mengurus suami dan anak-anak dengan tumpukan pekerjaan rumah tangga yang seolah tiada habisnya. Semua itu dapat menimbulkan perubahan sikap, seperti mudah tersinggung, sensitif, tidak berguna, stres, bosan, dan lain sebagainya.
3) Dari sisi sosial, terdapat perubahan tatanan masyarakat kita saat ini. Perempuan didorong untuk berkarier di luar rumah, berjuang menyejajarkan diri dengan laki-laki. Dahulu, kebanyakan perempuan diatur supaya lebih banyak di rumah dengan dibekali keterampilan seperti menjahit, memasak, menyulam, dan lainnya. Sedangkan sekarang, ada semacam kebanggaan ketika tetap berkarier, misalnya merasa berguna dan dibutuhkan. Menjadi ibu rumah tangga terasa menyedihkan, kerap dipandang sebelah mata, dianggap menghambat kemajuan, dan tidak produktif karena tidak menghasilkan apa pun.
Namun di sisi lain, dengan tetap bekerja, otomatis kita harus meninggalkan keluarga, suami dan anak-anak. Otomatis, kita harus pandai mengatur waktu antara keluarga dan bekerja jika tidak ingin keteteran atau salah satu menjadi korban. Semua itu kerap menjadi dilema bagi para ibu rumah tangga yang memilih tetap berkarier di luar rumah.
Lalu, benarkah menjadi ibu rumah tangga membuat kita menjadi tidak produktif? Pemikiran ini jelas tidak benar. Banyak hal yang bisa dilakukan di rumah tanpa harus meninggalkan keluarga berlama-lama sehingga suami dan anak tidak ada yang dilalaikan. Tentunya, harus disesuaikan dengan passion atau kesukaan. Misalnya, menjadi penulis, berbisnis online, ikut berbagai kursus online untuk mengembangkan diri, dan lainnya. Apalagi sekarang memang zaman digital, semua bisa kita dapatkan dengan mudah meski dari rumah.
Tidak mengapa jika sesekali kita ingin keluar rumah sebentar, menghibur diri dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan, misalkan menghadiri kajian-kajian keislaman, sharing dengan ibu-ibu yang lain, atau ikut komunitas tertentu yang sesuai minat. Dengan syarat, harus seizin suami, tidak melalaikan kewajiban kita sebagai istri dan ibu, dan memperhatikan hukum-hukum yang berlaku di masyarakat ketika keluar rumah, terutama hukum agama, serta pandai menjaga diri dari fitnah. Dengan begitu, kehormatan kita tetap terjaga dan tetap dalam rida Allah.
Intinya, lakukan aktivitas yang positif dan buang jauh-jauh pikiran negatif. Sesungguhnya, pemikiran negatif itulah yang menghambat untuk maju, bukan karena peran sebagai ibu rumah tangga. Yang tak kalah penting adalah kita harus sadar bahwa ketika memutuskan menikah, harus siap pula dengan peran dan tanggung jawab baru yang akan dijalani, yaitu sebagai istri dan ibu.
Karena itu, ketika akan menikah, setiap pasangan suami istri perlu melakukan persiapan, baik mental maupun ilmu. Itulah sebabnya usia calon pasutri menjadi pertimbangan, yaitu agar ketika memasuki biduk rumah tangga, keduanya sudah mengerti kewajiban dan tanggung jawabnya masing-masing. Dengan demikian, akan terbentuk keluarga yang “samara”, sebagaimana cita-cita awal saat memutuskan menikah. (AH)
image source: https://listaka.com/10-simple-productive-jobs-that-housewives-can-do-from-home/