Loading...

Manusia Dan Agama

Administrator 09 April 2017 10447 kali dilihat
Bagikan:
Manusia Dan Agama
Antara manusia dan agama tidak bisa di pisahkan. Kebermaknaan hidup manusia di tentukan oleh faktor agama. Atau mengandung aspek keyakinan, tata aturan peribadatan, dan tata nilai moral, yang implikasinya bukan hanya terbatas pada kehidupan profan di dunia tetapi juga pada kehidupan di akhirat (hidup sesudah mati). Agama telah menjadi kebutuhan dasar manusia jika mereka ingin menjadikan hidup dan kehidupan ini bermakna. 

Jati Diri Manusia Sebagai Khalifah

Pederbatan di kalangan ilmuan tentang siapa sesungguhnya manusia terus berlangsung hingaa saat ini, dan belum di temukan satu kesepakatan yang tuntas. Manusia tetap menjadi misteri yang paling besar dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Sri Madhawa Ashish, pertanyaan awal selalu muncul, “what is man?” (siapa sebenarnya manusia?) namun jawaban yang diberikan tidak pernah tuntas, ”the question has been asked times and again, but is hard to find a comprehensive answer.” (pertanyaan ini telah berulang-ulang dilontarkan tetapi sangat sulit menemukan jawaban menyerluruh). Keterbatasan untuk menemukan jawaban menyeluruh dan tuntas itu menjadi salah satu alasan berbagai disiplin ilmu untuk berupaya memahami manusia dari aspek tertentu saja, dan pada akhirnya muncul berbagai sisi pandang yang kadang-kadang antara satu dengan yang lainnya saling menafikan. Hasil pengamatan yang mendalam dan terstruktur sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan itu kemudian menempatkan manusia dalam berbagai teori sangat tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya.

Aliran psikonalisis memandang manusia sebagai homo volens atau manusia yang digerakan oleh keinginan keinginan. Aliran behaviorisme melihat manusia sebagai homo mechanius karena ia digerakan semaunya oleh lingkungan. Aliran kognitif lebih melihat manusia sebagai homo sapiens yaitu makhluk yang aktif mengorganisasikan dan mengolah stimuli yang diterimanya. Sedangkan aliran humanisme, yang lebih anyar dari aliran aliran tadi, memandang manusia sebagai homo ludens yaitu memandang manusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya. 

Keterbatasan eksplorasi penalaran manusia tentang manusia (sebagai obyek dan subyek sekaligus) meniscayakan untuk melihat lebih dalam informasi profetik atau informasi yang diperoleh melalui wahyu, dalam hal ini Al-Qur’an. Karena, Al-Qur’an yang diyakini sebagai firman allah tentu membawa informasi yang bersifat mutlak benar (absolute). Apa yang diinformasikan Al-Qur’an sebagai wahyu Allah Swt itu tidak perlu diragukan lagi sebagai suatu kebenaran. Al-Qur’an, misalnya menginformasikan bahwa manusia adalah homo theopani atau makhluk berketuhanan yang selalu harus mempresentasikan kehendak Tuhan di bumi, dikenal dengan istilah “Khalifah Fil Ardh”. Manusia diberi amanah oleh Allah Swt berupa tugas dan tanggung jawab (taklif) agar dilaksanakan dalam kehidupan di dunia sebaik baiknya. Berdasarkan informasi profetikan, amanah ini telah ditawarkan kepada makhluk-makhluk lain, tetapi semuanya enggan menerimanya, kecuali manusia. Perhatikan firman allah pada surat Al-Ahzab (33:72) berikut ini:

“Sesungguhnya Kami (Allah) telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung gunung tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat dzalim dan sangat bodoh” (Al-Ahzab/33:72)

Manusia yang telah menerima amanat itu tentu berhak memperoleh keistimewaan sebagai konsekuensi logis dari tugas kekhalifahannya. Keistimewaan itu antara lain misalnya semua ciptaan Allah Swt di bumi diperuntukan baginya. Flora dan fauna, bahkan segala makhluk yang ada di bumi diciptakan oleh Allah Swt untuk member layanan kepada manusia. Ada yang menjadi layanan langsung seperti makanan, minuman, obat obatan, perlengkapan keperluan sehari hari, tapi ada juga yang tidak langsung yang pada umumnya memberikan dukungan pada ekosistem agar keharmonisan makhluk makhluk di bumi tetap terjaga sehingga manusia dapat hidup sejahtera menjalankan tugas kekhalifahan dengan baik. Pendek kata, semua makhluk itu tercipta untuk kepentingan manusia. Perhatikan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 29 yang artinya: 

“Dialah allah yang menciptakan segala apa yang ada dibumi untukmu kemudian dia menuju ke langit lalu dia menyempurnakan-Nya menjadi 7 langit, dan dia maha mengetahui segala sesuatu.”

Sebagai khalifah, mereka harus memakmurkan bumi yang didiami sesama oleh beragam makhluk, mulai dari yang anorganik hingga makhluk hidup yang mampu memobilisasi dirinya dengan melata maupun dengan dua atau empat kaki mencari kehidupan dari kemurahan Allah Swt. Makhluk-makhluk itu diciptakan beragam dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, ada yang menjadi pemakan daging (carnivora), serangga (insektivora), tumbuhan atau buah buahan (herbivora) dan sebagainya. Andai kata makhluk makluk itu hanya memakan satu jenis makanan saja, misalnya semua herbivora maka hampir dapat dipastikan manusia tidak akan kebagian makanan dan tentu saja kekacauan akan terjadi dimana mana. Sungguh Allah Maha Adil, Dia mengatur pemenuhan kebutuhan yang sangat beragam sehingga manusia pun memperoleh makanannya secara berlimpah di alam ini, mulai buah buahan saja sangat variatif dari mulai yang sangat manis, manis, sedang, netral, sepat, pahit, dan sebagainya tersedia dengan aneka bentuk, warna aroma dan rasa. 

Dukungan survival yang melimpah ruah yang terdapat pada alam belum mencukupi untuk memenuhi tugas sebagai khalifah. Mereka masih diberikan kelengkapan lain oleh Allah Swt berupa modalitas untuk kesempurnaan tugasnya seperti insting (gharizah) alat indra, akal untuk berfikir dan memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya. Ahmad Mustafa Al-Maroghi mengemukakan empat modalitas yang diberikan kepada manusia. Ia menyebutnya sebagai hidayah dari allah yaitu Hidayatul Ilham (insting), Hidayatul Hawas (indra), Hidayatul Aql (intelegensi), Hidayatul Adyan Wa Syar’i (hukum hukum agama). Hukum-hukum agama ini sangat penting untuk menata kehidupan secara fardhiyah (individual maupun jama’iyah (sosial), meskipun secara naluri keberagamaan (kebertuhanan) telah diinjeksikan kedalam jiwa manusia yang lazim disebut serbagai fitrah keberagamaan (ketuhana) fitrah ini akan tersambung (connected) dengan hukum-hukum agama yang diturunkan oleh Allah Swt melalui kitab suci. Hukum-hukum agama tersebut sudah kompatibel dengan fitrah yang ditanamkan oleh Allah Swt dalam diri manusia. (AH)