Loading...

Anak Memiliki Bisnis, Mungkinkah?

Administrator 23 April 2018 758 kali dilihat
Bagikan:
Anak Memiliki Bisnis, Mungkinkah?
Ketika mendengar kata bisnis, yang terbayang di kepala pasti sesuatu yang bernilai besar dan membutuhkan modal besar. Bisnis adalah sesuatu yang harus dikerjakan oleh orang dewasa, karena tanggung jawab yang juga besar. Bisnis memerlukan pemikiran dan perencanaan yang matang. Maka, bisnis hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah matang pola pikirnya. 

Tapi tahukah Anda, bahwa ada banyak anak yang sukses memulai bisnisnya sejak kecil? Almeyda Nayara Alzier, atau lebih terkenal dengan sebutan Naya, contohnya. Anak yang baru berumur 9 tahun dan duduk di kelas 4 SD itu sukses berjualan slime dan squishy dengan omset 60 juta per bulan melalui akun Instagram @nayaslime18. 

Yang tak kalah fenomenal adalah keluarga Gen Halilintar. Siapa yang tak mengenal keluarga ini? Sebuah keluarga dengan sebelas anak, tanpa asisten rumah tangga, dan masing-masing sudah memiliki bisnis. Mungkinkah seorang anak memiliki bisnis? Kapankah saat yang tepat memulai bisnis? 

Bagi umat muslim, kisah hidup Nabi Muhammad yang menjadi yatim piatu di usia belia bisa menjadi contoh tentang berbisnis di usia dini. Beliau memulai bisnis di usia yang sangat muda, tujuh tahun. Di usia sembilan tahun, Nabi Muhammad sudah ikut bersama pamannya berdagang hingga ke negeri Syam. Pada usia 20 tahun, beliau dipercaya mengelola bisnis milik Khadijah, yang kemudian menjadi istri beliau. Bukankah ini adalah sebaik-baik teladan bagi kita, umat muslim? 

Anak sudah bisa diajarkan berbisnis ketika sudah mengenal dan memahami nilai uang. Usia minimal anak mengenal uang adalah pada usia lima atau tujuh tahun. Tentu saja, dengan pendampingan dari orang tua. 

Memberikan izin kepada anak untuk berbisnis bukan berarti melepaskannya begitu saja. Ada nilai yang harus ditanamkan kepada anak sebelum ia memulai berbisnis. Apa sajakah nilai-nilai itu? 

Jujur

Dalam berbisnis, kejujuran sangat penting. Sebagai orang tua, Anda harus menanamkan sifat jujur pada anak seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw dalam berdagang. Ketika ada cacat pada barang dagangannya, dengan jujur beliau mengatakan hal tersebut pada calon pembeli, tidak menyembunyikannya.

Sopan dan Ramah 

Sebagai pebisnis yang baik, ajarkan pada anak untuk tetap bersikap sopan dan ramah pada siapa saja, terutama kepada calon pembeli. Berbisnis bukan hanya soal mendapatkan uanh, tapi juga menjaga hubungan baik dengan orang dan lingkungan di sekitarnya. 

Sportif

Anak harus bersikap sportif. Bila barang yang dijualnya belum ada peminat, katakan padanya bahwa ini hal yang biasa terjadi dalam bisnis. Tidak semua orang membutuhkan barang yang dijualnya. 

Berani

Menjadi pebisnis harus berani. Bagaimana bisa menjual barang, kalau anak malu-malu? Tanamkan sifat berani pada anak.

Tanggung Jawab 

Sikap bertanggung jawab dibutuhkan dalam berbisnis. Anak harus memiliki tanggung jawab terhadap modal yang sudah dikeluarkan, juga terhadap barang yang dijualnya. 

Optimis

Katakan pada anak, tidak setiap hari bisnisnya akan berjalan mulus. Namun, ia harus tetap selalu optimis dalam menjalankan bisnisnya. 

Anda tidak perlu ragu jika sudah melihat jiwa bisnis pada anak di usianya yang masih dini. Yang harus dilakukan adalah mendukung dan memberikan arahan kepada anak. Satu lagi yang penting, jangan sampai bisnis yang dijalani mengganggu konsentrasi anak dalam belajar. Katakan pada anak, boleh saja berbisnis, tetapi sekolah tetap harus menjadi prioritas, karena tugas utamanya saat ini adalah belajar. (AH)

image source: http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2013/06/05/article-2336265-19722515000005DC-146_634x423.jpg