Geliat Penjualan Ikan Konsumsi dan Hias di BBIAT Cimahi
Administrator
14 Januari 2019
297 kali dilihat
Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Benih Ikan Air Tawar
(BBIAT) pada Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi menargetkan
peningkatan tingkat produksi benih ikan tahun ini.
Peningkatan
tersebut ditujukan untuk memenuhi semakin banyaknya permintaan pasar
akan benih ikan. Setiap hari, permintaan benih ikan dari BBIAT mencapai
200-350 benih ikan.
Kepala UPT BBIAT Kota Cimahi, Nandang
Jayawiguna mengungkapkan, permintaan benin ikan, terutama jenis gurame
sekarang ini mulai meningkat. Terutama dari luar daerah Kota Cimahi,
seperti Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.
Namun,
permintaan benih ikan khususnya gurame saat ini belum bisa dipenuhi
pihaknya. Pasalnya, benih ikan konsumsi yang diproduksi pihaknya untuk
saat ini baru ikan nila dan lele. Sedangkan gurame baru akan
dikembangkan.
"Permintaan sudah banyak, terutama gurame. Tapi
kita baru menjual ikan lele dan nila dulu," kata Nandang saat ditemui di
UPT BBIAT Kota Cimahi di Komplek Nata Endah, Cihanjuang, Cibabat, Kota
Cimahi, Senin (14/1/2010).
Dijelaskannya, budidaya ikan gurame
itu memerlukan cuaca panas. Jadi, untuk saat ini BBIAT bakal fokus untuk
pengembangan ikan konsumsi yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan
Kota Cimahi.
"Selain nila dan lele, kita ke depan akan kembangkan juga budidaya benih unggul ikan mas, termasuk gurame," ujar Nandang.
Selain
pengembangan ikan konsumsi, pihaknya juga terus mengembangkan budidaya
ikan hias. Terutama ikan hias yang memiliki potensi pasar bagus. Untuk
saat ini, ikan hias yang tersedia dan diburu dari BBIAT adalah frontosa
dan festae.
"Rencananya ikan hiasnya akan kita kembangkan lagi, seperti arwana, koi dan cupang," tandasnya.
Selain
peningkatan budidaya ikan, pihaknya juga menargetkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD) dari sektor penjualan ikan terus meningkat. Salah satu
upayanya ialah rencana revisi Peraturan Daerah (Perda) Kota Cimahi Nomor
3 tahun 2017 tentang Retribusi Jasa Usaha.
Dijelaskan Nandang,
PAD dari sektor jasa usaha benih ikan didapat dari penjualan ikan
konsumsi dan ikan hias yang dimulai sejak Mei 2018. Pendapatannya
mencapai Rp 32 juta lebih.
"Kita sudah bisa menjual tahun 2018 awal Mei, mulai ada penghasilan. PAD-nya sekitar Rp 32 juta lebih," terang Nandang.
Dikatakannya,
dalam pengajuan revisi nanti, beberapa point yang akan diubah adalah
soal budidaya jenis ikan dan harganya. Pasalnya, dalam Perda yang
digunakan saat ini, hanya ada beberapa jenis ikan yang diperjualbelikan.
Yakni
benih ikan konsumsi lele. Harganya pun disesuaikan dengan ukuran. Harga
terendahnya Rp50/ekor untuk ukuran larva, sedangkan harga tertinggi
adalah ukuran 9-12 cm yang dipatok Rp400/ekor. Kemudian, benih ikan nila
yang dijual sesuai ukuran. Harga terendah benih nila ukuran larva ialah
Rp25/ekor. Sedangkan harga tertinggi Rp200/ekor untuk ukuran 9-12 cm.
Untuk ikan mas, harga terendah adalah Rp50/ekor untuk ukuran larva. Sedangkan harga tertinggi Rp250/ekor untuk ukuran 9-12 cm.
Begitupun
dengan harga jual ikan hias yang rencanannya bakal diubah dalam Perda.
Saat ini, ada beberapa ikan hias yang dibudidayakan di BBIAT yang
tercantum dalam Perda. Seperti ikan frontosa yang dijual Rp150.000/ekor
dan Mas Koki Ranchu yang dijual Rp150.000/ekor.
"Mudah-mudahan ada peningkatan terus. Sekarang kita udah jual ikan lele dan nila. Ikan hiasnya ada frontosa," ujar Nandang.
Nandang
melanjutkan, dengan rencana perubahan Perda nanti, diharapkan PAD dari
budidaya ikan bisa meningkat. Apalagi, dirinya mengklaim permintaan
benih ikan semakin meningkat.
"Target tahun ini Rp 40 juta. Allhamdulilah sedikitnya bisa kontribusi terhadap PAD," kata Nandang.
Dikatakannya,
sejak resmi dikomersilkan tahun lalu, memang setiap harinya ada saja
konsumen yang membeli benih ikan dari BBIAT, terutama ikan konsumsi,
bahkan cenderung meningkat. Termasuk dari wilayah tetangga, seperti
Bandung Barat dan Kota Bandung.
"Kalau jumlah tidak menentu, tapi rata-rata 200-300 ekor per hari," tandasnya.