CIMAHI.-
Wali Kota Cimahi Ajay M.
Priatna mengatakan, Kota Cimahi dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi
rentan dengan masalah sampah. Dibutuhkan upaya keras mengatasinya,
termasuk inovasi dari masyarakat sebagai kesadaran peduli terhadap
lingkungan.
"Salah satu caranya dengan menyulap
sampah menjadi pupuk kompos. Hal ini dilatarbelakangi oleh asumsi
timbunan sampah di Kota Cimahi yang tinggi. Maka, masyarakat perlu
berperan dalam mengolah sampah, diantaranya dengan composting," ujarnya,
dalam peresmian PT Paranti Alam Sejahtera di Jalan Kolonel Masturi Kota
Cimahi.
Sejauh ini, sudah terdapat 38 bank sampah
dan 25 komposter di Kota Cimahi. Diantaranya, berada di kantor
pemerintahan, puskesmas, dan sekolah, serta di rw-rw.
Disamping
itu, sejak 2007, telah muncul gagasan untuk menjadikan Kota Cimahi
sebagai kota komposting dengan menyebarkan composting plan yang
dilengkapi mesin pencacah sampah untuk mengolah sampah menjadi kompos.
Dimana satu komposter dapat menghasilkan sekitar 1 meter kubik kompos.
Hal ini sesuai dengan Perda Kota Cimahi no 16 tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah;
"Tujuan utamanya adalah menciptakan masyarakat yang sehat agar kualitas sumber daya manusianya juga bagus," jelasnya.
Sesuai
UU No. 18 tahun 2008, sudah saatnya kita merubah cara pandang terhadap
sampah dan cara memperlakukan sampah. Sampah bukan lagi sebagai barang
yang tidak berharga melainkan sebagai sesuatu yang memiliki nilai guna
dan manfaat.
"Pemkot Cimahi selalu menekankan
kepada masyarakat agar sampah tidak terbuang sia-sia dengan memanfaatkan
sampah rumah tangga ataupun dari pasar untuk dijadikan pupuk kompos.
Dengan peran aktif masyarakat yang mampu mereduksi dan mendaur ulang
sampah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat, maka volume sampah akan
menurun," tuturnya.
Direktur PT Paranti Alam
Sejahtera, Chondjaruddin Ahmad Wirasendjaja mengatakan, pihaknya sudah
memproduksi mesin komposter sampah skala rumah tangga. Mesin dinamakan
Paranti Composter, dapat menampung 5 kg sampah organik hingga dihasilkan
kompos 8% dari bobot awal.
Cara kerja mesin yakni
sampah organik beserta bakteri pengurai dimasukkan ke dalam bagian
mesin yang didalamnya terdapat mesin pencacah layaknya pisau blender.
Setelah hancur, sampah didiamkan sambil dikeringkan untuk proses
pengomposan dengan waktu 24 jam. Kapasitas mesin mencapai maksimal 5 kg
sampah organik dan akan menghasilkan kompos 8% dari bobot awal.
"Proses pengomposan dilakukan selama 24 jam karena kaum ibu memasak setiap hari," ungkap pria yang akrab disapa Kang Adang.
Mesin
sudah dilengkapi dengan pengering, sehingga bisa menghasilkan kompos
kering dan tidak menjijikkan dan bisa langsung digunakan. "Bisa
digunakan untuk kompos tanaman," tuturnya.