CIMAHI
- Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Cimahi bakal memperketat
pengawasan hewan ternak khususnya sapi yang masuk ke Kota Cimahi. Hal
itu dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan bakteri antraks.
Kepala
Bidang Pertanian pada Dispangtan Kota Cimahi, Mita Mustikasari
mengatakan, arus sapi yang masuk ke Kota Cimahi cukup tinggi. Terutama
dari Jawa Tengah yang merupakan wilayah endemik bakteri antraks.
"Jadi
harus dilihat SKKH-nya (Surat Keterangan Kesehatan Hewan), termasuk
kartu vaksinasi antrax," kata Mita saat ditemui di Pemkot Cimahi Jln.
Demang Hardjakusumah, Rabu (22/1/2020).
Menurutnya,
hingga saat ini belum ditemukan sapi di Kota Cimahi yang diduga
terjangkit antraks, sejak kasus antraks di Kabupaten Gunungkidul, Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY) muncul beberapa waktu lalu.
"Seluruh
sapi yang disembelih di Cimahi dinyatakan sehat. Biasanya sapi yang
masuk Cimahi dari Jawa Tengah, Purwakarta, Kabupaten Bandung, dan
Kabupaten Bandung Barat," terang Mita.
Mita
mengatakan, di Kota Cimahi hanya ada satu daerah yang terdapat
peternakan sapi, yakni di daerah Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara.
Berdasarkan data, terdapat 356 ekor sapi yang ada di wilayah tersebut.
Sehingga
pihaknya akan memantau sejumlah sapi itu, guna mengantisipasi
penyebaran antraks tidak sampai masuk ke Kota Cimahi. "Kondisi yang
sehat, dan tidak ada hewan yang menunjukkan gejala terserang antraks
atau penyakit lain," tegasnya.
Menurut
Mita, antraks tidak hanya menyerang sapi, tapi juga domba, kambing
kerbau, kuda, rusa, dan marmot. Gejala klinis pada hewan yang terkena
antraks, diantaranya sesak nafas, gemetar, kejang, dan menyebabkan
kematian karena ada perdarahan otak.
Tidak
hanya itu, gejala lainya adalah demam mencapai 41,5 derajat selsius,
gelisah, susah bernafas, dan detak jantung lemah. Selain itu, produksi
susu berkurang dan keguguran.
"Keluar
darah berwarna hitam dari lubang hidung, telinga, dubur, kemaluan.
Kalau ada ternak sapi yang mati mendadak dengan gejala keluar darah dari
lubang alami, tidak boleh dipotong tapi dikubur," jela Mita.