Dari 100 ekor sapi betina yang kawin suntik atau inseminasi buatan itu, pihaknya menargetkan 70 persen akseptor atau sapi betina bisa bunting tahun ini. Sasarannya pun sudah ditentukan.
“Targetnya kita 70 persen harus bunting (beranak). Artinya kalau dari 100, berarti 70 ekor,” sebut Kepala Bidang Pertanian pada Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Cimahi, Mita Mustikasari, Rabu (20/1/2021).
Sementara jumlah populasi sapi di Kota Cimahi mencapai 552 ekor. Sebanyak 354 ekor di antaranya sapi betina, dan 198 ekor jantan. Populasi terbanyak ada di Kelurahan Cipageran, Kecamata Cimahi Utara.
Dikatakan Mita, program inseminasi buatan terbilang ampuh untuk meningkatkan reproduksi sapi. Keampuhan insminasi buatan itu terbukti tahun lalu dimana dari 200 ekor sapi betina yang disuntik, ada 144 ekor yang bunting.
“Iya ampuh. Tahun lalu kita ada 200 akseptor yang diinseminasi buatan dan hasilnya 144 yang bunting,” terang Mita.
Inseminasi buatan merupakan bagian dari program Sapi Kerbau Komiditas Andalan Negeri (Sikomandan) dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI).
Program tersebut dibuat untuk menggenjot populasi sapi dan kerbau lokal. Sebab di Kota Cimahi tidak ada populasi kerbau, Dispangtan Kota Cimahi akan memaksimalkan terhadap sapi betina.
“Kita fokusnya ke sapi untuk inseminasi buatan, karena di kita kan memang tidak ada kerbau,” ujar Mita.
Dirinya menjelaskan, inseminasi buatan melalui program Sikomandan merupakan reinkarnasi dari program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) yang digagas Kementan sejak tahun 2017.
Program tersebut digagas untuk meningkatkan reproduksi sapi dalam negeri, sehingga nantinya bisa mengurangi sapi impor dari luar negeri. Kota Cimahi pun berkomitmen menjadi bagian di dalamnya untuk menyukseskan program tersebut.