Loading...

Kampung Siaga Bencana Citeureup Wujud Kesiapsiagaan Masyarakat Cimahi Hadapi Risiko Bencana Alam

Riva Adam Puteri 31 Oktober 2025 727 kali dilihat
Bagikan:
NotFound

CIMAHI - Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Sosial Kota Cimahi menyelenggarakan Uji Standard Operating Procedure (SOP) Kampung Siaga Bencana (KSB) di Lapang RW 10, Kelurahan Citeureup, pada Kamis (30/10). Kegiatan ini menjadi puncak dari rangkaian pembentukan KSB yang telah dilaksanakan selama tiga hari sejak 28 Oktober 2025 oleh Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Sosial bekerja sama dengan Kementerian Sosial RI, Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, serta BPBD Kota Cimahi.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Citeureup yang telah berinisiatif membentuk Kampung Siaga Bencana sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan bersama. Ngatiyana menegaskan bahwa kesiapan masyarakat merupakan kunci utama dalam mitigasi bencana, mulai dari tahap perencanaan, tindakan saat bencana, hingga evaluasi pasca-bencana.

Menurut Ngatiyana, latihan tersebut penting agar setiap petugas mengetahui perannya masing-masing ketika bencana benar-benar terjadi. Ngatiyana juga mengingatkan bahwa wilayah Cimahi termasuk daerah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana, seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi. Ngatiyana menyoroti potensi bahaya dari Sesar Lembang yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Kota Cimahi. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk selalu waspada terhadap tanda-tanda alam yang mencurigakan, seperti retakan tanah atau pergeseran permukaan. “Kita harus pasang mata dan telinga di wilayah kita. Jangan anggap sepele tanda-tanda bencana,” tegasnya.

Dalam laporan penyelenggara, pembentukan KSB Citeureup dilakukan karena wilayah tersebut terletak di antara kawasan rawan bencana akibat pengaruh Sesar Lembang. Dengan terbentuknya KSB Citeureup, kini Kota Cimahi memiliki lima KSB aktif, yakni di Kelurahan Cipageran, Padasuka, Leuwigajah, Utama, dan Citeureup. 

Simulasi tanggap darurat bencana yang dilakukan melibatkan unsur petugas Kampung Siaga Bencana, Tagana, BPBD, serta masyarakat. Simulasi tersebut mencakup proses evakuasi warga, pengelolaan dapur umum, hingga penanganan medis dan logistik. “Semua petugas sudah menguasai tugas masing-masing termasuk penyiapan logistiknya, gudang logistiknya, gudang kesehatannya termasuk dapur lapangan. Sehingga semuanya bisa bergerak sesuai tugas tanggung jawabnya masing-masing apabila terjadi bencana” terang Ngatiyana.

Dalam sesi wawancara, Ngatiyana menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat dalam upaya mitigasi bencana. Ngatiyana menyebut bahwa kegiatan simulasi ini akan terus dilaksanakan secara berkala dengan melibatkan berbagai elemen, termasuk anak sekolah, kader KSB dari berbagai wilayah, dan masyarakat umum.