Loading...

Membangun Bangsa Dengan Gemar Membaca Dan Menulis

Administrator 26 Desember 2016 1127 kali dilihat
Bagikan:
Membangun Bangsa  Dengan Gemar Membaca Dan Menulis
Indonesia merupakan salah satu negara besar di dunia yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM).  Wilayahnya terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dengan luas wilayah keseluruhan 1.904.569 km2. Bumi alam Indonesia memiliki Sumber Daya Alam luar biasa seperti minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak. Di samping kekayaan alam, Indonesia juga memiliki Sumber Daya Manusia yang melimpah, yakni sekitar 257 juta jiwa (BPS 2016).

Namun sayangnya, kedua aset yang begitu besar ini belum terolah secara baik. Sebagai contoh budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat Indonesia masih sangat minim. Menurut WMLN (World’s Most Literate Nations) yang melakukan survei di 61 negara, minat baca masyarakat Indonesia menempati peringkat ke-60. Dari sisi perpustakaan Indonesia menempati urutan ke-37, sedangkan dari sisi output sistem pendidikan, Indonesia menempati urutan ke-45. Sungguh miris bukan?

Berdasarkan hasil survei WMLN ini, bisa dikatakan budaya membaca dan menulis kalangan masyarakat Indonesia masih sangat minim padahal, membaca merupakan gerbang kemajuan suatu bangsa. Sebagai contoh negara Cina memiliki budaya literasi yang tinggi sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Contoh lainnya adalah negara Jepang dengan kemajuan bidang literasi berbasis budaya lokalnya mampu membangun bangsanya menjadi negara modern sehingga Jepang disegani di kawasan Asia.

Kemajuan pembangunan suatu daerah tak lepas dari peran seorang pemimpin yang memiliki wawasan luas. Dari profil daerah berprestasi di Indonesia, secara nyata para pemimpinnya memiliki banyak gagasan cemerlang antara lain karena memiliki budaya baca dan menulis yang tinggi.

Tidak hanya budaya membacanya yang rendah, budaya menulis masyarakat Indonesia pun demikian. Dari dua ratus lima puluh juta lebih penduduk di Indonesia hanya sekian persen yang gemar menulis. Hal ini senada dengan ungkapan Wapres Indonesia, Jusuf Kalla yang menyatakan kebanyakan buku-buku yang beredar di pasaran 90 persen masih terjemahan. Indonesia belum memiliki penulis yang dihargai di dunia internasional.

Dari paparan di atas, bisa dinyatakan bahwasanya kemajuan suatu bangsa dan negara bisa dilihat dari kemajuan budaya membaca rakyatnya. Oleh karena itu, pemerintah mencanangkan program gemar membaca dan menulis untuk menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat sebagai prasyarat tumbuhnya ekosistem budaya yang sehat. Kesadaran budaya membaca dan menulis akan melahirkan masyarakat yang cerdas, memiliki daya saing tinggi, dan produktif. Jika masyarakat berdaya saing tinggi dan produktif, maka langkah menuju Indonesia sejahtera hanya tinggal setapak lagi. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa sangat penting demi perubahan budaya yang lebih baik dan kelak akan menjadi jati diri bangsa Indonesia yang mandiri.

Menanggapi hal ini, Pemkot Cimahi melalui Seksi Perpustakaan gencar menyosialisasikan gerakan membaca dan menulis. Selain menyediakan fasilitas perpustakaan, Pemkot Cimahi turut aktif mengadakan berbagai kegiatan seperti workshop, seminar, training membaca dan menulis bagi  kalangan pelajar dan masyarakat umum. Langkah ini sebagai bentuk konkrit untuk membangun budaya bangsa dengan gemar membaca dan menulis.