CIMAHI - Pemkot Cimahi memastikan di wilayahnya tidak ada unggas yang
mati akibat terserang virus Avian Influenza (AI) atau flu burung seperti
yang terjadi di daerah lain di Jawa Barat.
Dinas Peternakan Jawa
Barat mencatat 17.996 ekor unggas di Jawa Barat yang mati mendadak
akibat serangan virus tersebut. Kejadian tersebut tersebar di sembilan
daerah di Jabar seperti Kab Bekasi, Indramayu, Kota Tasikmalaya,
Kuningan, Majalengka, Purwakarta, Subang, dan Sukabumi.
Kepala
Bidang Pertanian pada Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan
Pertanian (Diskopindagtan) Kota Cimahi Asep Herman mengatakan, pada
tahun ini pihaknya tidak menemukan adanya unggas yang mati akibat virus
H5N1 itu, kecuali pada 2015 lalu.
"Kasus itu terjadi terakhir
kali pada 2015. Kami berharap jangan sampai terjadi lagi pada tahun
ini," katanya, kepada pewarta, Kamis (31/3).
Pada September 2015,
20 ekor bebek warga di Kelurahan Baros, Kecamatan Selatan terserang
virus AI sehingga harus dilakukan depopulasi agar tidak menular kepada
unggas dan memberikan kerugian lainnya.
Untuk memberantas virus
Avian Influenza (AI) maka dibutuhkan upaya pengendalian dengan mengikuti
perilaku atau karakteristik virus itu. Dengan mengetahui karakteristik
virus AI, dia melanjutkan, peternak dapat langsung mengetahui penyebaran
virus AI dan kemudian melapor ke dinas peternakan. Jika penyebaran
virus AI sudah diketahui sejak awal, maka penanganannya semakin mudah.
Yakni
dengan mengubur bangkai hewan yang terkena virus AI. Kedalaman kuburan
yang ideal sedalam satu meter. Dirinya pun menyarankan agar sampel
bangkai hewan itu dikirim ke laboratorium untuk mengetahui secara pasti
jenis virus AI.
Sementara hewan yang tersisa, sebaiknya diafkir
atau hewan yang masih sehat harus dikarantina di satu tempat. Karantina
harus dilakukan minimal selama sebulan. (ha)