CIMAHI
- Toleransi antarumat beragama, suku dan budaya di Kompleks Basis di RW
14, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi patuh
dicontoh. Kesejukan selalu terjaga meski ada perbedaan suku dan agama.
Sekilas,
Kompleks Basis sama seperti pemukiman padat lainnya di Kota Cimahi.
Kawasan Basis disesaki rumah yang saling berdempetan yang mengapit jalan
berukuran sekitar 1-2 meter lebarnya.
Kisah
toleransinya yang sudah turun temurun dipupuk dan dijaga hingga kini.
Kondisi itu membuat Basis selalu diselimuti kesejukan.
Meski
masoritas Muslim, namun ada juga yang beragamai Kristen dan sebagainya.
Selain itu, warganya berasal dari berbagai suku dan budaya yang
berbeda-beda.
Ada Sunda,
Batak, Ambon, Jawa, Manado. Meski begitu, warganya yang berjumlah
sekitar 790 jiwa lebih dari 300 Kepala Keluarga (KK) tetap rukun dan
akur. Bahkan setiap hari kebesaran suku dan agama masing-masing, mereka
selalu saling mengunjungi satu sama lainnya.
Contohnya,
ketika umat Islam merayakan Idul Fitri, maka umat lainnya seperti
Kristiani dipastikan akan berkunjung dan mencicipi hidangan khas.
Begitupun jika umat Kristen sedang merayakan Natal.
"Di
sini campur, dari berbagai daerah dan agama. Tapi tetap sejuk dan
saling menghormati dan membantu," kata Ketua RW 14, Kelurahan Baros,
Johny George Laurenz Muaya.
Ia
menceritakan, dulunya sekitar tahun 1960-an Basis merupakan asrama TNI
di bawah pengawasan Kodim. Penduduk yang ada di sana pun adalah para TNI
yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
"Dulunya kandang kuda, kemudian diubah jadi pemukiman buat tentara," ucapnya.
Seiring
berjalannya waktu, para TNI yang ada di kawasan Basis memasuki usia
pensiun sehingga diteruskan oleh anak cucunya. Selain itu, ada pula yang
dijual ke masyarakat sipil sehingga mulai berubah menjadi pemukiman
untuk masyarakat umum.
Bukan
lagi khusus asrama TNI. Dulunya listrik, hingga air ditanggung oleh
Kodim, namun setelah digunakan warga sipil, kewajiban pembayaran itupun
otomatis menjadi tanggungjawab pemilik rumah.
"Akhinya setelah dilepas Kodim, bayar listrik, pasnag listrik, bayar air dan pajak sendiri," ujar Johny.
Kini,
penduduk di kawasan Basis sudah hidup tenang, rukun dan saling
menghormati perbedaan masing-masing. Bahkan kawasan Basis dijadikan
contoh sebagai daerah yang kondusif di perkotaan.
"Saya bertekad menjada kekondusifan ini. Warga akan selalu saling bantu, saling menghormati dan sebagainya," ujarnya.
Kini
setelah ada kejadian lagi ledakan di Gereja Katedral, Makasar, Sulawesi
Selatan, Johny menyampaikan pesan yang cukup menyentuh dan menyejukan.
Ia meyakini semua agama mengajarkan kebaikan, baik Islam, Kristen dan
sebagainya.
Sebagai umat
Kristiani, Johny sama sekali tidak berpikir negatif atas kejadian ini.
Menurutnya, kejadian peledakan itu hanya dilakukan oleh oknum yang tidak
bertanggungjawab.
"Islam
ajarannya sama, tidak brutal. Dan Kristen juga sudah paham. Kita Gak
nyalahin, karena agama mengajarkan yang baik," pungkasnya.