Loading...

Dewi Tapa Cireundeu

Administrator 11 November 2019 3753 kali dilihat
Bagikan:
NotFound

Dewi Tapa Cireundeu adalah Desa Wisata Ketahanan Pariwisata Cireundeu merupakan komunitas masyarakat di daerah sekitar wilayah Cimahi-Bandung Yang masih mengagungkan kearifan local.

Sebagaimana umumnya komunitas kampung adat, masyarakat adat Cireundeu masih mengagungkan kearifan lokal dengan cara menjunjung tinggi 4 unsur penting alam yaitu tanah, air, matahari dan udara. Empat  pita berbeda warna yang menjuntai diatas Balai Adat menunjukkan keempatnya. Berkat perilaku yang bersahabat dengan alam, masyarakat adat Cireundeu mampu membangun kemandirian pangan. Di embargo panganpun mereka tak kan goyah karena bahan pangan mereka sehari-hari adalah singkong.

Ada dua macam singkong yang ditanam masyarakat adat Cireundeu yaitu singkong karikil dan singkong “biasa”. Singkong “biasa”  adalah singkong yang  beredar di pasaran sebagai bahan baku tape singkong atau dimasak menjadi getuk, singkong goreng, comro dan lain-lain. Sedangkan singkong karikil diolah menjadi  tepung aci (bahasa Sunda: tepung tapioka). Setiap kwintal singkong karikil menghasilkan 30 kg tepung aci dan menjadi sumber pendapatan mereka. Sedangkan sisa hasil perasan singkong dikeringkan, diolah menjadi rasi (nasi singkong) dan menjadi bahan makanan utama sehari-hari.

        Selain sebagai bahan makanan pokok, rasi juga diolah menjadi tepung. Tepung rasi merupakan bahan utama pembuatan kue eggroll berbagai rasa semisal rasa coklat, pandan, caramel  yang dikemas rapi dalam toples plastik. Produksi mereka tidak hanya eggroll, ada dendeng  yang terbuat dari kulit singkong. Sungguh kreatif. Bagaimana rasanya?  Mirip dendeng sapi asli. Eggroll dan dendeng singkong umumnya dibeli oleh para pendatang sebagai oleh-oleh khas Dewitapa Cireundeu.

Desa Wisata Ketahanan Pangan (Dewi Tapa) Cireundeu memang patut dikunjungi oleh setiap warga Indonesia yang ingin mengenal kekayaan alam dan budaya Nusantara. Tidak hanya unggul dalam ketahanan pangan, Dewitapa Cireundeu memiliki beragam seni pertunjukan: kesenian angklung buncis, karinding dan wayang golek. Pertunjukan ini biasanya digelar setelah prosesi Seren Taun, sehari semalam. 

Masyarakat Cireundeu berpesta dan dengan tangan terbuka lebar mengajak siapapun yang datang untuk ikut bergembira dan makan  bersama mereka.

Apa makanan yang disajikan? Tentu saja rasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya yaitu opor ayam, sambal goreng, tumis buncis dan lain-lain.  Mirip pesta umumnya, wargapun bergembira ria. Tidak ada kisah malnutrisi disini, walau kadar karbohidrat, lemak dan protein singkong dibawah beras. Tetapi karena ditunjang lauk pauk  sepadan maka warga hidup sehat, terlihat dari postur tubuh dan wajah yang berseri-seri. Mengonsumsi rasi berarti juga terhindar dari bahaya  obesitas.

Sebetulnya kemandirian Dewitapa Cireundeu tidak hanya singkong, tatkala menapaki jalan menuju kampung adat Cireundeu akan terlihat  semak  tanaman Ganyong di kanan – kiri jalan  Ganyong  (Canna edulis Kerr) memiliki umbi yang bisa diolah dan disantap sebagai makanan pokok. Tanaman  Ganyong memang layak ditanam disepanjang jalan sebagai tanaman hias karena bunganya yang cantik berwarna merah dan kuning, indah sekali. Terlebih tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus, persis seperti tanaman singkong. Tanam bibitnya dan panen hasilnya ketika sudah cukup umur. Bahkan cukup “tahan banting” di musim kemarau, tidak memerlukan air sebanyak tanaman padi.

Umbi ganyong mudah dimasak,karena tekstur ganyong mudah dibuat menjadi mi, kue-kue kering dan kue basah seperti brownies. Dikukus sebagai teman minum tehpun enak dan manis rasanya. Masyarakat di beberapa daerah di Indonesia memasak ganyong menjadi bubur tatkala musim kemarau panjang yang menyebabkan gagal panen.

Selain ganyong, warga Cireundeu menanam talas , ubi dan umbi-umbian lainnya. Beragam umbi-umbian tersebut bersama singkong merupakan bagian sesajen upacara Seren Taun . Juga terdapat buah-buahan hasil panen yang  dikumpulkan di Balai Adat untuk menunjukkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas anugerah hidup. Mereka bersyukur bahwa dari alam ada inti bumi yang menjadi sumber kehidupan.

Itulah kearifan lokal yang mereka yakini, kearifan lokal yang tercipta karena hubungan baik dengan alam. Di setiap kesempatan, mereka mengheningkan cipta untuk berterimakasih pada Sang Khalik yang telah memberikan tanah yang subur, air berasal dari sumber air yang senantiasa mengalir, udara yang bersih dan matahari yang selalu memancarkan sinarnya.

Warga Cireundeu bersyukur atas kelimpahan pangan yang didapat dari alam. Kelebihan pangan selalu disimpan dalam leuit (Bahasa Sunda:  lumbung pangan).  Rasa syukur atas ketersediaan pangan juga ditunjukkan dengan  memegang teguh tradisi mengonsumsi pangan non beras. Apabila “terjebak” harus menyantap hidangan non beras dalam suatu perhelatan diluar komunitasnya, maka mereka “meminta izin” dalam hati atau  berkomat kamit layaknya berdoa.

Mayoritas warga Cireundeu penganut  agama Sunda Wiwitan yang disebarkan Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan Jawa Barat. Esensi ajarannya pembangunan jati diri bangsa (nation character building) yang berkorelasi dengan kecintaan pada “tanah amparan” (Bahasa Sunda: tanah air). Ajaran agama Sunda Wiwitan  juga kental dengan nilai-nilai kebangsaan dan kemandirian budaya. Mereka  tidak mengenal waktu berdoa. “Setiap helaan nafas, adalah waktu berbincang denganNya, mengingat kebesaranNya dan mohon keridhoanNya”, jelas salah seorang warga masyarakat,. 

Sedangkan Ketua Kampung Adat Cireundeu, Abah Emen Sunarya memperjelas esensi kepercayaan agama mereka  yang ditunjukkan dengan tekad, ucap dan perilaku. “Yang penting adalah bagaimana perilaku kita, bukan apa yang keluar dari mulut. Yang diucapkan harus benar, tak boleh berbohong. Itu prinsip. Kita harus berbuat baik kepada sesama manusia, tolong menolong, jangan menyakiti sesama, hati-hati dalam berkata-kata, jangan asal bicara,” jelasnya. Lebih lanjut dijelaskan oleh Abah Emen: “Ajaran ini menekankan agar manusia harus saling menghargai dan berdampingan hidup secara arif dengan mahluk hidup lainnya” Karena itu tidak ada penebangan pohon tanpa sebab, keperluan bahan bakar bisa dipenuhi dari ranting-ranting tua yang berjatuhan. Tanaman tidak dipupuk zat kimia yang diyakini tidak ada keterkaitan dengan alam walau untuk mereka harus menunggu lama untuk  memanen singkong.

Umumnya petani memanen singkong setelah 8 bulan sedangkan petani Cireundeu bersabar hingga tanaman mencapai 12 bulan. Toh hal tersebut tidak mengakibatkan mereka kelaparan, lumbung pangan  tetap penuh. 

Sebagai lazimnya komunitas, masyarakat Cireundeu memiliki hierarki untuk menunjang tata sosial kehidupan. Adapun susunannya sebagai berikut: 

·Sesepuh atau Ketua Adat ialah Abah Emen Sunarya. 

·Ais Pangampih atau Penerima Tamu ialah Abah Widya 

·Panitren atau Bagian Humas ialah Abah Asep Abbas

 Mereka memimpin kurang lebih 1.000 warga Cireundeu agar selalu berjalan pada jalur rel yang diyakini.

Seperti kata Panitren Abah Asep Abbas: “ Kami berdaulat di kaki sendiri, termasuk menggunakan bahasa ibu. Kami wajib menjaga kehidupan kesundaan.” Apakah itu berarti mereka menjadi masyarakat ekslusif yang  tidak mau menerima perubahan? Ternyata tidak, warga Cireundeu yang menganut agama Islam pun banyak. Di tengah pemukiman berdiri megah masjid bagi penganut agama Islam. Penganut agama Islam dan penganut agama Sunda Wiwitan hidup harmonis.

Setiap warga melaksanakan ibadah sesuai keyakinan dan saling menghargai hari besar keagamaan warga lainnya. Mirip kehidupan beragama di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur provinsi Jawa Barat dimana penganut agama Kristen Pasundan hidup berdampingan dengan penganut agama Islam.  Bangunan masjid tempat penganut agama Islam  beribadah  terletak tidak jauh dari bangunan Gereja Kristen Pasundan. Betapa indahnya kebersamaan.

Bagaimana dengan arus modernisasi? Ternyata masyarakat adat  Cireundeu tidak menabukan gegap gempitanya gadget. Ketiga tokoh adat memiliki telepon seluler sehingga mudah dihubungi apabila wisatawan ingin berkunjung. Ibu-ibu penggerak usaha mikro kecil menengah (UMKM) juga tidak gagap dalam menggunakan telepon seluler. Karena mereka tidak hanya mengolah hasil sampingan singkong menjadi rasi, eggroll dan dendeng, tetapi juga memasarkannya.

Sedang tugas menanam singkong, memanen hingga mengolahnya menjadi tepung tapioka merupakan kewajiban kaum pria. “Tangan saya tak pernah kosong, berangkat dan pulang dari kebun selalu membawa sesuatu. Terkadang hasil panen singkong, daun singkong atau umbi-umbian lainnya,” menurut saah satu warga Cireundeu. 

Mereka tidak menjadi kolot karena berpegang teguh pada ajaran Sunda Wiwitan. Ajaran agama menjadi way of life agar tidak terkontaminasi dampak negatif  budaya luar yang sering bertentangan dengan kearifan lokal. Karenanya jangan heran apabila melihat kaum remaja putri hilir mudik  menggunakan celana jeans dan kebaya putih sebagai blus seusai upacara Seren Taun. Tidak ada larangan memakai celana jeans, tidak ada larangan berkomunikasi melalui telepon seluler  dan tidak ada larangan apapun selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Modernisasi bisa membawa dampak positif, terlebih ketika diartikan sebagai  mencari ilmu setinggi-tingginya. Mereka bangga ketika beberapa anggota masyarakatnya mampu menyelesaikan pendidikan sarjana. Mereka tidak kuatir karena dalam kehidupan keseharian senantiasa menerapkan filosofi leluhur  yang merupakan garis yang harus dijaga dan diemban hingga akhir hayat. Sulit menemukan tempat tinggal beratap rumbia dan berlantai tanah disini, semua sudah berubah menjadi bangunan modern.

Tetapi jangan heran apabila disela-sela bangunan  atau bahkan di depan rumah terdapat kandang kambing dan kandang ayam. Karena sesuai filosofi mereka, keberadaan setiap mahluk hidup saling menguntungkan. Saling memiliki keterkaitan yang dipengaruhi oleh 4 unsur utama diatas: tanah, air, angin dan sinar matahari. 

Entah apa yang terjadi apabila warga Cireundeu  enggan memelihara ternak, mungkin kedaulatan pangan akan hilang. Karena selain memasok kebutuhan protein, ternakpun menghasilkan kotoran yang diperlukan sebagai pupuk tanaman. 

 Setiap komunitas memiliki kearifan lokal sehingga bisa menjadi pedoman bagi masyarakat lainnya agar hidup selaras dengan alam. Alam Indonesia yang harus dipertahankan kelestariannya. Sumber air harus dijaga dan pepohonan di hutan  tidak ditebang semata-mata demi keserakahan. Apabila semua itu dilaksanakan, Indonesia terhindar dari krisis air dan krisis pangan adalah keniscayaan. Komunitas kampung adat Cireundeu telah membuktikannya, walau area menuju pemukiman mereka pernah berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Leuwigajah.  TPA yang mengubur beberapa  mata air dan berakhir longsor mengakibatkan 143 orang meninggal dalam tumpukan sampah pada tanggal 21 Februari 2005.

        Tetapi kehidupan warga Cireundeu yang tinggal di lembah Gunung Kunci, Gunung Cimenteng dan Gunung Gajahlangu tersebut tak tergoyahkan. “Turun temurun kami menjaga kearifan lokal  sehingga bisa berdaulat pangan. Semuanya tak kan terwujud apabila kita meninggalkan ajaran leluhur agar selalu bersahabat dengan alam,”tutur  panitren Kampung Adat Cireundeu, Abah Asep Abbas. Ah, andaikan setiap warganegara Indonesia berpandangan sama: “ Bersahabat dengan alam karena  apabila kita menjaga alam maka alampun akan menjaga kita.”