CIMAHI.- Pemerintah Kota Cimahi bertekad mengubah
paradigma masyarakat sebagai langkah penanganan sampah di Kota Cimahi.
Paradigma tersebut dari yang asalnya pungut, angkut dan buang menjadi
kumpul, kelola dan residunya baru dibuang.
Kepala Bidang
Kebersihan, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Kota Cimahi, Ade Ruhiyat di
sela-sela kegiatan membangun kebijakan dan strategi pengelolaan sampah
Kota Cimahi, di Aula gedung A Pemkot Cimahi, Rabu (2/3/2016) menuturkan,
cara pengelolaan sampah konvensional membuat lingkungan tetap kotor.
Menurut
Ade, pihaknya akan merubah paradigma sampah di masyarakat. Selama ini
paradigma sampah di masyarakat yaitu pungut, angkut, buang.
"Kita akan rubah paradigma ini, dari pungut, angkut dan buang diganti jadi kumpul, kelola dan residunya baru dibuang," katanya.
Keterbatasan
lahan membuat Kota Cimahi sulit berkutik dalam pengelolaan sampah skala
massal. Padahal, volume sampah terus meningkat seiring pertambahan
jumlah penduduk.
Dituturkan Ade, jika tetap menggunakan paradigma
pungut, angkut, buang, umur TPA (Tempat Pengolahan Akhir) akan cepat
berakhir. Padahal pemerintah cukup kesulitan mencari lahan untuk TPA.
"Belum
lagi untuk membuang sampah ke TPA, dibutuhkan biaya anggaran cukup
besar. Apalagi kalau dibuangnya ke TPA Legok Nangka, bisa berlipat
anggarannya," ujarnya.
Untuk pengelolaan sampah, lanjut Ade, kini
pihaknya terus memsosialisasikannya hingga tingkat RW. "Nantinya tiap
rumah melakukan pemilahan sampah hingga jadi bernilai," tuturnya.
Cimahi
mencoba mengembangkan teknologi tepat guna dari pemanfaatan sampah
walaupun lahan atau tempat menjadi persoalan. Pengolahan sampah skala
lingkungan dengan biodigester ditempatkan di kompleks-kompleks,
mendirikan tempat pengolahan sampah terpadu (TPSP) yang tersedia di 4
RW, reaktor sampah yang mengolah sampah organik menjadi kompos di 17 RW.
(RR)