Kota Cimahi memiliki tingkat risiko bencana yang cukup tinggi
berdasarkan Indeks Rawan Bencana Indonesia 2013, dengan skor 120 atau
berada pada skala kerawanan sedang. Bencana alam seperti longsor,
banjir, atau gempa bumi di Cimahi berisiko lebih tinggi, apabila cuaca
ekstrim mempengaruhi kondisi klimatologi, topografi, dan geohidrologi.
Demikian mengemuka dalam sosialisasi pengelolaan sungai yang digelar
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Cimahi untuk aparatur dan
masyarakat di Aula Gedung A Pemerintah Kota Cimahi, Kamis 8 September
2016 lalu . Wakil Wali Kota Cimahi Sudiarto mengatakan, masyarakat bisa
melakukan pencegahan bencana melalui hal-hal kecil, seperti tidak
membuang sampah ke sungai.
"Karena mencegah dan menanggulangi banjir tak dapat dilakukan oleh
pemerintah saja, tetapi dibutuhkan komitmen dan kerja sama berbagai
pihak. Soalnya, bencana banjir atau bencana-bencana lainnya tidak bisa
diperhitungkan atau diprediksi dapat terjadi kapan," kata Sudiarto.
Kepala BPBD Kota Cimahi Dani Bastiani mengatakan, potensi bencana di
Cimahi di wilayah utara dan selatan lebih tinggi dibandingkan wilayah
tengah. "Di wilayah utara sebagian besar berupa bukit atau tebing, yang
kemungkinan bisa menimbulkan longsor atau pergerakan tanah. Kalau di
wilayah selatan justru berupa cekungan, yang memungkinkan terjadi
banjir," kata Dani