CIMAHI.- Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi mendorong para siswa diperkenalkan dengan pangan lokal sejak dini. Sebab, pangan hasil pertanian lokal, seperti singkong dapat menjadi alternatif di tengah gempuran minuman tinggi gula dan makanan ultra proses di pasaran.
Seperti diketahui di Kota Cimahi memiliki pangan lokal khas Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi yang tetap lestari lebih dari satu abad yakni rasi alias beras singkong. Pangan lokal itu diharapkan bisa tersampaikan manfaatnya hingga lingkungan sekolah.
"Harapan kami tentunya sistem pangan lokal bisa tersosialisasikan ke sekolah. Di kita kan ada seperti beras singkong yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda," Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata pada Disbudparpora Kota Cimahi, Lucky Sugih Maulidin, Kamis (31/2025).
Pihaknya bersama Kementerian Kebudayaan, kata Lucky, terus menggencarkan penguatan sistem pangan lokal melalui pendidikan. Tujuannya, untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya sistem pangan lokal yang berkelanjutan melalui pendidikan.
Sebab menurutnya, memperkenalkan akan pangan lokal seperti rasi kepada siswa sejak dini akan membuat mereka terbiasa mengonsumsi pangan lokal dan mendorong diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas.
"Kita ingin memperkenalkan berbagai jenis pangan lokal, manfaatnya bagi kesehatan, dan peranannya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan melibatkan berbagai pihak, terutama generasi muda, diharapkan sistem pangan lokal dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat," ujar Lucky.
Selain memberikan dampak bagi kesehatan, dengan diperkenalkannya pangan lokal ini juga secara tidak langsung akan membuat siswa ikut bersama-sama untuk melestarikan rasi. Terlebih, pangan utama bagi warga Kampung Adat Citeundeu itu sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Pemprov Jawa Barat.
"Jadi Kota Cimahi yang sudah masuk WBTB baru 2, yaitu Rasi dan Acara Seren Taun kampung adat cireundeu yang telah ditetapkan menjadi WBTB tingkat provinsi," ucap Lucky.
Keberadaan rasi sebagai pangan utama bagi warga Kampung Adat Cireundeu diperkirakan berlangsung sejak tahun 1918. Salah satu pencetusnya adalah Aki Ali yang berpikir bahwa sumber pangan warganya yang dijajah harus dipertahankan.
Kondisi masyarakat ketika itu dalam keadaan terjepit ditengah penguasaah penjajah terhadap perkebunan rakyat. Selain itu, letak geografis yang berada di pegunungan membuat warga tidak bisa menanam padi di sawah.
Sehingga para sesepuh dan warga Kampung Adat Cireundeu kala itu berpikir sudah waktunya untuk beralih dari makanan pokok yang berasal dari beras menjadi makanan yang berasal dari umbi-umbian seperti singkong. Enam tahun kemudian tepatnya tahun 1924 sesepuh dan warga mengembangkan singkong menjadi sebuah beras.
"Tentunya ini menjadi tugas kita bersama baik pemerintah, masyarakat dan stakeholder lainnya untuk sama-sama melestarikan rasi yang memiliki sejarah panjang bagi warga Kampung Cireundeu," ujar Lucky.
Kampung Adat Cireundeu kini berjumlah 60 kepala keluarga (KK) yang dihuni sekitar 240 jiwa tak sepenuhnya menutup diri dari perkembangan zaman. Tentu saja modernisasi itu sedikit banyak membawa pengaruh. Tapi kebiasaan menngkonsumsi rasi singkok yang merupakan warisan dari para leluhur mereka akan tetap dipertahankan.
"Sudah komitmen dengan para penerus, anak-anak kecil bahwa kemandirian pangan ini harus terus dipertahankan," kata Sesepuh Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi.***