CIMAHI – Pemerintah Kota Cimahi bersama Universitas Jenderal Ahmad Yani dan Korps Sukarelawan PMI Unjani melaksanakan penanaman seribu pohon bambu di kawasan RW 10 Leuwigajah, Cireundeu, Sabtu (11/10). Kegiatan kolaboratif ini menjadi wujud komitmen Pemkot Cimahi dan mitra strategis untuk memulihkan lahan pasca-tragedi longsor TPA Leuwigajah serta membangun kawasan konservasi bambu sebagai simbol ketahanan lingkungan.
Jenis tanaman bambu dipilih karena mampu menahan tanah, menyerap air hujan mencapai 90%, memperbaiki struktur tanah yang terdegradasi, serta menjadi habitat keragaman hayati. Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menekankan bahwa penanaman bambu ini adalah langkah nyata menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengenang tragedi longsor tahun 2005 yang menewaskan lebih dari 150 jiwa. “Kita tanam bambu agar tanah ini semakin kuat tidak terjadi longsor lagi,” jelasnya.
Sinergi Pemerintah Kota Cimahi dengan Korps Sukarela Palang Merah Indonesia unit Unjani, warga Cireundeu dan komunitas Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Cimahi menjadi kunci sukses gerakan yang selesai dalam dua hari di lahan milik pemerintah kota seluas 11 hektar. Wali Kota menuturkan, “Ini berkat kerjasama antara pemerintah kota Cimahi dengan Universitas Jenderal Ahmad Yani yang mana hari ini hadir bersama KSR dari anak-anak PMI Unjani yang bekerja sama dengan kita dan masyarakat Cireundeu untuk menanam pohon bambu.”
Berdasarkan hasil wawancara, Pemerintah Cimahi telah menanam pohon di lokasi lain seperti Kehati dan Cimenteng, dan terus mendorong masyarakat agar menumbuhkan kepedulian akan penghijauan. Selain untuk konservasi, Pemkot Cimahi merencanakan pembangunan monumen peringatan di lokasi eks TPA Leuwigajah sebagai pengingat tragedi dan ruang doa bagi keluarga korban. “Ini salah satunya adalah mengenang kembali agar sini tidak terjadi lagi sehingga kita tanam bambu agar tanah ini semakin kuat tidak terjadi longsornya lagi,” tambah Wali Kota.
Wali Kota menyampaikan, apresiasi juga datang dari ahli waris korban, forum RW, dan warga adat Cireundeu yang mendukung gagasan monumen. “Semua menyetujui untuk dibangun sebuah monumen, untuk mengenang para korban pada saat itu tragedi di Leuwigajah, TPA Leuwigajah,” tuturnya.
Dengan penanaman bambu dan pembangunan monumen, Cimahi berharap tercipta taman kota ekologis, ruang edukasi, dan simbol kekuatan kolaborasi lintas generasi demi kelestarian lingkungan dan mengenang sejarah, serta menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam upaya pemulihan lahan kritis dan penanggulangan bencana berbasis partisipasi masyarakat dan akademisi.