CIMAHI.- Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cimahi Asep Jayadi mengatakan, tahun ini pihaknya sudah menciptakan hampir 1.000 orang sumber daya manusia (SDM) siap kerja. Mereka telah menjalani peningkatan kompetensi dan pengalaman melalui pelatihan bahkan ada yang langsung disalurkan ke perusahaan untuk bekerja.
"Untuk jumlahnya dari Januari sampai November sekarang 950 orang yang sudah melaksanakan pelatihan yang dipersiapkan untuk bekerja di Kota Cimahi," kata Asep, Selasa (11/11/2025).
Dirinya menjelaskan, peningkatan kompetensi dan keterampilan ini merupakan bagian dari program prioritas Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi dalam menyiapkan 10.000 SDM siap kerja. Target itu akan coba diwujudkan dalam lima tahun ke depan selama masa kepemimpinan Wali dan Wakil Wali Kota Cimahi, Ngatiyana-Adhitia Yudisthira.
Asep mengatakan, program ini merupakan bagian dari ikhtiar Pemkot Cimahi dalam mengentaskan permasalahan pengangguran di Kota Cimahi yang berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami penurunan. Tren tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kota Cimahi tahun 2023, persentasi TPT di Cimahi mencapai 10,52 persen. Lalu angkanya turun tahun 2024 menjadi 8,97 persen dan tahun 2025 menjadi 8,75 persen.
Penurunan 22 persen itu membuat Kota Cimahi turun ke peringkat kedua angka pengangguran di Jawa Barat. Posisi pertama ditempati Kabupaten Bekasi dengan persentase 8,78 persen. Sedangkan peringkat terbawah diduduki Kabupaten Pangandaran sebesar 1,91 persen.
"Ini sejalan dengan program Pak Wali dan Wakil. Ke depan, kita akan terus berupaya agar tingkat pengangguran di Cimahi semakin berkurang," bebernya.
Di lain sisi, Dinas Tenaga Kerja Kota Cimahi sudah mengembangkan proyek yang bisa menghubungkan antara perusahaan dan pencari kerja. Asep menyebut platform tersebut bernama 'SIDAKEPTri' alias Sistem Data Ketenagakerjaan dan Pelatihan Terintegrasi yang menyediakan informasi lowongan kerja secara real-time.
Melalui platform ini, hanya perusahaan yang benar-benar membutuhkan tenaga kerja yang akan memasang iklan lowongan, tanpa tekanan untuk pura-pura membuka rekrutmen. Asep mengatakan, dengan menekankan langkah migrasi ke sistem online bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga soal akurasi kebutuhan kerja dan kenyamanan bagi perusahaan serta pelamar.
"Di samping ruang lingkupnya juga, situasi dan kondisinya seperti itu. Lebih efektif, lebih bagus pakai sistem aplikasi atau online saja," katanya.***