CIMAHI - Sebuah monumen peringatan bakal dibangun di kawasan eks TPA Leuwigajah di Kota Cimahi, Jawa Barat. Monumen dibangun untuk mengenang 157 jiwa korban yang tertimbun longsor sampah di TPA tersebut pada 21 Februari 2005 silam.
Desain monumen yang akan dibangun di lahan eks TPA Leuwigajah yang masuk
administrasi wilayah Kota Cimahi itu sudah dipilih berdasarkan hasil sayembara
yang dilakukan akhir tahun 2025. Konsep monumen peringatan itu tergambar berupa
dinding kaca transparan dengan grafir menampilkan nama-nama korban serta visi
dan misi daerah. Kaca dipilih karena kuat dan tahan lama.
Bentuk monumen meruncing setinggi 9 meter menyerupai kujang sebagai
simbol keteguhan masyarakat dalam menghadapi dan bangkit dari bencana. Kemudian
sampah akan dimanfaatkan sebagai elemen monumen untuk membangun kesadaran
kolektif akan bencana sampah, serta usunan botol kaca dapat dibentuk menyerupai
berbagai bentuk motif maupun pola khas daerah.
"Untuk tragedi longsor sampah tahun kemarin sudah ada gambarnya,
tinggal penganggaran dan kapan kita akan mulai sehingga memperingati para
korban yang tertimbun tanah longsor," kata Wali Kota Cimahi, Ngatiyana,
Rabu (25/2/2026).
Dalam upaya mengurangi sampah, monumen menggunakan plastik multilayer
(MLP) bernilai ekonomi rendah. Selain itu, sampah plastik terurai sangat lama,
bahkan hingga 50 tahun. Menurut Ngatiyana, Monumen Peringatan Tragedi TPA
Leuwigajah dirancang sebagai ruang transformasi kesadaran, dari mengenang
hingga berkomitmen terhadap tanggungjawab ekologis.
Monumen ini terintegrasi dengan Kampung Adat Cireundeu sebagai ruang
pembelajaran budaya, penghubung kawasan, dan pengembangan UMKM berbasis
kearifan lokal. Aspek mempelajari diwujudkan melalui plaza edukasi dengan
papan-papan informasi tentang desa adat dan kebudayaan lokal. Fasilitas lainnya
seperti ampliteater, plaza hingga termpat parkir akan menjadi pelengkap
keberadaan monumen.
"Kita abadikan agar Kampung Adat Cireundeu juga mengingat
sodara-sodaranya yang menjadi korban. Mudah-mudahan tahun ini ada anggarannya
kalau tidak ada tahun depan," ujar Ngatiyana.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi Chanifah Listyarini
menambahkan, desain yang akan digunakan untuk membuat monumen peringatan
tragedi longsor TPA Leuwigajah merupakan hasil sayembara. Juri independen dan
tokoh Kampung Adat Cireundeu dilibatkan dalam proses penilaian.
"Jadi desain monumen itu hasil sayembara yang kita laksanakan. Jadi
memang menggunakan barang bekas dan lain sebagainya," kata Chanifah.
Namun untuk pembangunan fisiknya, pihaknya masih menunggu hasil akhir
dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Cimahi. Chanifah
mengatakan, kebutuhan lahan untuk pembangunan monumen peringatan itu
diperkirakan mencapai 1 hektare.
"Kurang lebih membutuhkan lahan di 1 hektare. Jadi itu kawasan
lengkap, ada ampliteater, UMKM. Jadi bentuknya tidak hanya monumen saja,"
kata dia.