CIMAHI - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi terus melakukan pemetaan dan penanggulangan terhadap penyelesaian tingginya kebutuhan air bersih warga di tengah musim kemarau seperti saat ini. Meski begitu, jumlah warga terdampak kekeringan pada tahun ini mengalami penurunan.
Kepala BPBD Kota Cimahi Dani Bastian mengatakan, krisis air bersih hampir merata terjadi di tiga wilayah Kota Cimahi. Kondisi tersebut semakin dirasakan warga dalam sebulan terakhir. Data yang ada menunjukan, krisis air bersih musim kemarau tahun 2017 dirasakan 4.000 penduduk.
Data tersebut diklaim menurun drastis dibandingkan tahun 2015. Dimana tahun itu krisis air bersih di Cimahi mencapai 27.000 penduduk. Untuk memenuhi kebutuhan warga akan air bersih, pihaknya berkoordinasi dengan UPT Air Minum.
"Karena UPT Air Minum punya stok air bersih yang banyak dan bisa dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-harinya," katanya, kepada pewarta, Minggu (24/9).
Zaenal Hamzah (37), warga Kp. Babakan Utama, RT05/02, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan mengaku harus rela antre demi mendapatkan air bersih dari rumah warga lain yang memiliki sumur artesis.
Menurutnya, krisis air bersih di wilayahnya sudah terjadi sejak dua minggu lalu. Biasanya, saat musim kemarau seperti ini wilayahnya sering tidak kebagian air bersih, baik itu dari pabrik maupun dari salah satu Partai Politik.
"Wilayah kami ini agak jauh dari pabrik, jadi tidak mendapatkan jatah air. Dari partai juga sebenarnya suka ada yang ngasih, tapi jarang sampai ke sini," ujar Zaenal.
Ado (56) warga RW 04, Kelurahan Cibeber, Kec. Cimahi Selatan mengaku untuk memenuhi kebutuhan air bersih, ia bersama warga lainnya harus antre di Kantor Kelurahan untuk meminta air. Lantaran sumur dan pasokan PDAM tidak bisa lagi diandalkan.
Dalam satu hari, Ado bersama warga lain biasanya mengantre pada pagi, siang dan sore secara bergantian. Sekali antre, warga bisa membawa air 5-10 jerigen untuk memenuhi kebutuhan mandi cuci kakus sehari.