MAH - Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi optimis target retribusi dari sektor pasar tradisional bakal mencapai target tahun ini yang mencapai Rp 1 miliar. Hingga Mei ini, realisasi penerimaannya sudah mencapai Rp 338.586.150 atau 34 persen.
Artinya, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar pada Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperind) masih memiliki pekerjaan rumah untuk merealisasikan sisa target yang mencapai sekitar Rp 661.413.850..
"Target tahun ini Rp 1 miliar. Kalau tahun lalu itu tercapai 101 persen dari target Rp 873.192.900. Jadi tahun ini kita optimis," terang Kepala UPTD Pasar pada Disdagkoperind Kota Cimahi, Syahrizal Yusuf, Selasa (25/5/2021).
Retribusi yang dibebaskan kepada pada pedagang itu tercantum Peraturan Walikota (Perwal) Nomor 17 Tahun 2019 tentang Perubahan Tarif Retribusi Jasa Umum Pada Objek Pelayanan Retribusi Pelayanan
Tarif retribusi sebesar Rp 700 per meter persegi. Besaran yang harus dibayarkan pedagang pun disesuaikan dengan besaran kios. "Ditariknya setiap hari dari pedagang. Kita langsung setorkan ke kas daerah hari itu juga. Kecuali kalau hari libur," sebut Syahrizal.
Ada empat pasar tradisional yang dikelola UPTD Pasar Kota Cimahi. Yakni Pasar Atas Baru, Pasar Cimindi, Pasar Melong dan Pasar Citeureup. Khusus Pasar Citeureup yang bukan menjual berbagai kebutuhan masyarakat, melainkan menjual kebutuhan sparepart kendaraan.
Dimasa pandemi COVID-19 ini, rata-rata kunjungan ke Pasar Atas Baru mencapai 2.300 orang per hari. Kemudian ke Pasar Cimindi 700 orang per hari. Kunjungan ke Pasar Citeureup rata-rata hanya 50 orang per hari dan Pasar Melong rata-rata 300 orang per hari.
Dalam kesempatan ini, Syahrizal mengungkapkan saat ini pengunjung masih terbiasa dengan jam operasional ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan.
Seperti diketahui, saat PSBB diterapkan dalam rangka menekan penularan COVID-19, jam operasional pasar tradisional di Kota Cimahi dibatasi sampai pukul 12.00 WIB. Namun kini operasional sudah kembali normal hingga pukul 15.00 WIB.
"Waktu awal Covid-19 jam operasional pagi sampai jam 12, nah itu jadi kebiasaan pengunjung. Padahal sampai sore," ungkapnya. .
Kondisi tersebut, kata dia, otomatis berpengaruh terhadap penjualan para pedagang. Pasalnya, pasar yang dalam kondisi normal sebelumnya selalu damai hingga sore, kini mulai sepi ketika memasuki pukul 13.00 WIB.
"Dampaknya kan pedagang ada yang habis, ada yang gak. Penjualannya jadi gak sesuai harapan seperti dulu," ujarnya.