Intruksi Presiden (INPRES) Nomot 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Anggaran menuntut pengelolaan keuangan lebih efisien. Tidak hanya pengelolaan di Organisasi Perangkat Daerah (OPD), efisiensi juga mempengaruhi pengelolaan anggaran pelayanan terhadap masyarakat. Termasuk pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat Kota Cimahi.
Dengan status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD Cibabat dituntut untuk dapat memberikan pelayanan bermutu dengan harga terjangkau, Namun, karena hampir 93 persen pasien menggunakan kepesertaan BPJS Kesehatan, maka kondisi pendapatan keuangan cenderung tetap atau stagnan. Sementara biaya operasional cenderung meningkat.
Kepala Bagian Keuangan RSUD Cibabat, Husein, S.Sos.,MM mengakui jika kebijakan efisiensi dapat mempengaruhi mutu pelayanan dan likuiditas keuangan.
”Adanya kebijakan (Inpres nomor 1 Tahun 2025) tentang efisiensi anggaran) mau tidak mau membuat kita harus memutar otak, memikirkan bagaimana agar mutu pelayanan tetap berjalan baik,” ungkap Husein, kepada wartawan belum lama ini.
Sebagai rumah sakit regional tipe B, Rumah Sakit Pendidikan dan Jejaring Pelayanan KJSU- KIA, RSUD Cibabat, tidak hanya melayani masyarakat Kota Cimahi saja, tetapi melayani juga masyarakat dari Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan juga Kota Bandung.
Sejak 2024, RSUD Cibabat memiliki jumlah tempat tidur sebanyak 324 TT. Bahkan, jumlah pemanfaatan tempat tidur kerap meningkat dalam setiap tahunnya.
Meski trend pendapatan dan kemampuan kas rumah sakit setiap tahun meningkat, lanjut Husein, namun terjadi juga peningkatan utang rumah sakit yang cukup signifikan.
Permasalahan yang dihadapi oleh RSUD Cibabat, terutama oleh bagian keuangan. Berdasarkan perwal 62 tahun 2021 RSUD Cibabat salah uraian tugasnya adalah menyusun analisis biaya dan laporan realisasi keuangan (LRA). Kita harus menginformasikan setiap belanja per unit pelayanan kinerja pelayanan masih berdasarkan pendapatan belum ada informasi belanja per unit.
Untuk menghindari penurunan kualitas dan mutu pelayanan akibat dari efisiensi, RSUD Cibabat pun membuat inovasi yang diberi nama PELITA CIBABAT.
PELITA CIBABAT adalah Peningkatan Efisiensi dan Akuntabilitas Pelayanan Melalui Implementasi Analisis Biaya Pelayanan RSUD Cibabat.
Melalui inovasi ini, RSUD Cibabat menyediakan unit cost, digitalisasi dan dashboard informasi untuk peningkatan efisiensi dan akuntabilitas pelayanan.
Solusi dari inovasi yang dibuat RSUD Cibabat;
1. Analisis Biaya (perhitungan unit cost) dimana dapat dihasilkan biaya riil dan unit cost per layanan sebagai dasar untuk mengevaluasi efisiensi pelayanan.
2. Digitalisasi analisis biaya
- untuk menjaga keberlanjutan pehitungan analisis biaya setiap tahun dan menjadi lebih cepat lebih mudah dan lebih akurat dan realtime.
- Dapat direplikasi menjadi solulsi bagi rumah sakit lain yang memiliki permasalahan terkait analisis biaya
- Dapat diintegrasikan dengan aplikasi yang sudah diterapkan maupun yang akan diterapkan(e BLUD)
3. Dashboard efisiensi dan akutanbilitas pelayanan:
- Analisis biaya pelayanan membandingkan antara pendapatan dengan belanja rill diunit pelayanan visual : rawat inap & rawat jalan BPJS Dashboard
- Analisis proporsi belanja pelayanan -> visual: proporsi belanja
4. Informasi eksekutif/dashboard analisis biaya rumah sakit:
- Penyusunan rencana bisnis dan anggaran 5 tahun/1 tahun
- Penentuan pengembangan pelayanan
- Penetapan kebijakan efisiensi pelayanan
- Penetapan penghargaan bagi unit pelayanan yang efisien
Inovasi yang dibuat diharapkan dapat menjadi solusi strategis. Namun harus diakui, agar PELITA CIBABAT berjalan diperlukan komitmen, kerja sama dan peran semua pihak untuk mempelajari, memahami, menerapkan, memonitor dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Sehingga, tujuan dari PELITA Cibabat menjadi sebuah inovasi pelayanan, dapat benar-benar mencapai goals sesuai