CIMAHI.- Kampung Adat Cireundeu menggelar acara tradisi Tutup Taun 1958 Ngemban Taun 1 Sura 1959 Saka Sunda. Kegiatan yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali menjadi bentuk rasa syukur masyarakat adat Cireundeu kepada Sang Pencipta beserta alam semesta.
Selain upacara adat, terdapat sejumlah penampilan kesenian diantaranya wayang golek, gondang dan tarian lainnya. Sejumlah penganan khas Kampung Adat Cireundeu yang berbahan dasar singkong juga tersedia untuk dinikmati.
Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira ikut menghadiri acara upacara adat tersebut. Hal itu menunjukkan komitmen Pemkot Cimahi dalam pemberian ruang, perlindungan, dan dukungan terhadap komunitas adat dan pelestari budaya, termasuk masyarakat Cireundeu.
"Saya merasa sangat terhormat dan bersyukur dapat hadir secara langsung untuk bersilaturahmi sekaligus ikut serta dalam napak tilas budaya dan spiritual masyarakat adat. Kegiatan ini bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga refleksi nilai-nilai kehidupan yang luhur, warisan turun-temurun yang terus dijaga dengan penuh hormat oleh masyarakat Cireundeu," ujarnya.
Pihaknya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, tokoh adat, dan seluruh masyarakat kampung cireundeu atas komitmennya dalam melestarikan budaya dan tradisi sunda yang penuh makna. "Kegiatan seperti ini menjadi bentuk nyata dari keberlanjutan identitas budaya, jati diri lokal, sekaligus modal sosial masyarakat kita yang sangat berharga," katanya.
Menurut dia, Tahun Baru Saka Sunda bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender. Melainkan, momentum spiritual dan sosial untuk menguatkan kembali hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan Sang Maha Pencipta.
"Dalam tradisi masyarakat Cireundeu, perayaan tutup taun dan ngemban taun selalu disertai dengan rasa syukur, introspeksi, dan harapan akan kebaikan di masa mendatang. Ini adalah filosofi hidup yang sangat dalam dan layak untuk kita teladani," ucapnya.
Pihaknya meyakini keberadaan Kampung Adat Cireundeu di tengah Kota Cimahi menjadi anugerah luar biasa. "Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Cireundeu tetap teguh menjaga adat istiadat, nilai-nilai hidup sehat dan harmoni dengan alam, serta sacangreud pageuh, sagolek pangkek (komitmen, menepati janji dan konsisten) dalam menjalankan sistem kehidupan yang berbasiskan pada kemandirian pangan dan spiritualitas yang kuat. Hal ini menjadi potret kearifan lokal yang sejati, Kota Cimahi berbangga hati memiliki komunitas adat seperti di Cireundeu," imbuhnya.
Rangkaian kegiatan mulai dari ritual adat, hingga pagelaran seni dan budaya, termasuk pertunjukan wayang golek bukan hanya menjadi ruang pelestarian budaya. Tetapi juga menjadi media pendidikan budaya bagi generasi muda dan ajang promosi kearifan lokal bernilai tinggi.
"Saya mengajak seluruh masyarakat Kota Cimahi untuk ikut serta melestarikan budaya lokal, menghargai keberagaman adat, serta membangun kesadaran kolektif bahwa kekayaan budaya adalah kekuatan utama bangsa. Kota yang kuat bukan hanya yang berkembang secara infrastruktur fisiknya semata, tetapi juga yang mampu menjaga warisan budaya," tuturnya.
Pihaknya berharap sinergi antara pemerintah dan masyarakat adat akan terus terjalin dengan baik, agar nilai-nilai luhur budaya lokal tidak tergerus oleh waktu. "Kepada sesepuh adat dan tokoh masyarakat, saya ucapkan terima kasih atas kerja keras menjaga harmoni dan kearifan hidup masyarakat Cireundeu. Kepada generasi muda, saya titip pesan belajarlah dari warisan ini. jadikan nilai-nilai luhur leluhur kita sebagai pegangan untuk menghadapi tantangan zaman dengan kearifan, bukan sekadar dengan kecanggihan," tandasnya.***