Loading...

Pemkot Cimahi Siapkan Langkah Antisipasi Kekeringan Akibat Kemarau

Riva Adam Puteri 23 Juni 2026 24 kali dilihat
Bagikan:
Pemkot Cimahi Siapkan Langkah Antisipasi Kekeringan Akibat Kemarau

CIMAHI - Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira menyebutkan, Pemkot Cimahi sudah Bersiap menghadapi kemarau ekstrim akibat fenomena El Nino seperti yang diprediksi Badan Meteorologi Klimatologi (BMKG). 

"Banyak sekali kemarin dari BMKG bahwa ancaman kekeringan ini merupakan ancaman serius, tapi kita tetap fokus penanganannya ke depan seperti apa," Adhitia di Melong, Kota Cimahi, Senin (22/6/2026).

Dirinya mengatakan, Pemkot Cimahi melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait terus melakukan pembaharuan titik rawan kekeringan khususnya air bersih. Meskipun secara umum hampir semua wilayah di Kota Cimahi rawan terhadap krisis air bersih dengan kategori berbeda dari mulai ringan sedang hingga ekstrim.

"Koordinasi dengan wilayah kota sudah mencoba mendata berapa titik yang terancam mengalami kekeringan ekstrim," ucap Adhitia.

Persiapan awal, lanjut dia, pihaknya akan menyiapkan pasokan air bersih yang nantinya akan dipasok ke wilayah yang mengalami krisis air bersih. Pemkot Cimahi akan berupaya agar masyarakat tetap mendapatkan pasokan air bersih. 

"Kita menyiapkan sumber pasok air bersih untuk beberapa wilayah yang mengalami kekeringan ekstrim. Intinya apapun yang terjadi karena ini fenomena alam yang tidak bisa kita lawan. Kami dari pemerintah mencoba untuk mengantisipasi mengenai potensi terjadinya kekeringan ekstrim di Kota Cimahi," kata Adhitia. 

Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan BMKG untuk mengetahui ancaman kekeringan dan krisis air bersih. Setidaknya ada 312 RW yang akan mengalami kekeringan pada musim kemarau nanti. 

"Kalau melihat dari potensinya, semua kelurahan di Kota Cimahi ini terancam kekeringan dan krisis air bersih artinya merata, dan puncaknya di bulan Agustus sampai Oktober 2026 nanti," kata Fithriandy.

Sementara mengacu pada dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB), pada kemarau panjang dua tahun lalu kekeringan terparah terjadi di Cimahi bagian selatan, mulai dari Kelurahan Melong, Utama, hingga Leuwigajah. 

"Kekeringan terparah yang kita catat itu dua tahun lalu, dampak yang ditimbulkan sama. Kemudian paling parah ada di daerah selatan, memang karena warga mengandalkan air PDAM dan sebagian air tanah," ucap Fithriandy.

Krisis air bersih yang dialami warga Kota Cimahi juga karena ketersediaan sumber air tanah dan sumur warga sudah mengalami penurunan muka air. Sehingga kondisi sumur pada musim kemarau nanti akan mengalami gangguan. 

"Jadi kekeringannya itu disebabkan sumber air di sumur mengalami penurunan. Karena di sana mayoritas sumber airnya itu dari sumur ditambah kan berebut dengan industri air tanahnya juga," kata Fithriandy. (Bidang IKPS)**