CIMAHI.-Pemerintah Kota Cimahi
terus berusaha menekan angka kasus stunting di Kota Cimahi. Pendekatan
kesehatan perlu ditunjang dengan kebersihan lingkungan karena
mempengaruhi kondisi tumbuh kembang anak.
Hal itu
disampaikan Wali Kota Cimahi, Ajay M. Priatna usai membuka acara
Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Stunting, serta Adaptasi
Kebiasaan Baru (AKB) tingkat Kelurahan Leuwigajah yang berlangsung di
gedung Cimahi Technopark Jln. Baros, Jumat (21/8/2020).
"Prevalensi
stunting di Indonesia adalah 37,2%. Sedangkan di Kota Cimahi, terdapat
penurunan angka stunting selama tiga tahun terakhir," ujarnya.
Stunting
adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang diakibatkan oleh
kekurangan gizi kronis, sehingga anak lebih pendek untuk usianya.
Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal
setelah bayi lahir, akan tetapi kondisi stunting baru nampak setelah
bayi berusia 2 tahun.
Di Kota Cimahi, angka
stunting pada balita tahun 2017 sebesar 15,74 %, menurun jadi 9,75 % di
tahun 2018. Sementara untuk tahun 2019, angka stunting di Kota Cimahi
menurun lagi menjadi 9,07 %.
Menurutnya, stunting
pada balita memberikan dampak yang kurang menguntungkan, antara lain
mudah sakit, kemampuan kognitif berkurang, fungsi-fungsi tubuh tidak
seimbang, dan gangguan lain.
Walikota menegaskan,
penanganan tentang gizi dan kesehatan hanya berkontribusi 30 persen pada
kasus stunting. "Adapun 70 persen penyebab stunting terkait sanitasi,
pola pengasuhan, ketersediaan dan keamanan pangan, pendidikan,
kemiskinan, dam situasi politik," terangnya.
Kejadian
stunting dapat dicegah dengan mempersiapkan calon ibu agar cukup gizi
pada saat hamil, memberikan ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI,
pemberian pola makan, pola asuh, dan sanitasi yang baik kepada anak.***