CIMAHI - Salah satu upaya untuk menekan angka prevalensi
stunting adalah dengan melakukan pembinaan pada calon pengantin (catin). Intervensi
pada calon pengantin sangat penting sebagai upaya preventif mencegah kelahiran
bayi stunting. Oleh karenanya Pemerintah Daerah Kota Cimahi melalui Dinas
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan
Keluarga Berencana (DP3AP2KB) menyelenggarakan Pembinaan Calon Pengantin Kota
Cimahi Tahun 2023, Sabtu (28/10).
Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Gedung A
Kantor Pemkot Cimahi ini dihadiri oleh 100 pasang calon pengantin di Kota Cimahi yang berencana
menikah pada bulan November sampai dengan Desember 2023. Narasumber dalam
kegiatan ini adalah H. Yana Permana, S.Ag., M.M.Pd dari Kementerian Agama Kota
Cimahi, Penyuluh
Keluarga Berencana, Arie Dwi Purnama, S.Sos dan Satgas Stunting Kota Cimahi, Monica
Sundawati, S.Tr., Sos., M.Kesos.
Penjabat (Pj) Wali Kota Cimahi, Dicky Saromi
mengungkapkan stunting masih menjadi masalah yang dipandang perlu menjadi
prioritas di Kota Cimahi karena terkait dengan kualitas sumber daya manusia
generasi penerus bangsa.
“Indonesia akan menghadapi bonus demografi dengan
puncak usia produktif 2045 ditentukan oleh anak yang lahir di tahun ini maka
kita harus menangani persoalan stunting dengan sungguh-sungguh,” tegas Dicky.
Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan
Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), persentase stunting Kota Cimahi saat ini
sebesar 9.35% atau sejumlah 2.928 balita dalam kondisi stunting, sedangkan
berdasarkan Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan
prevalensi stunting Kota Cimahi sebesar 16.4%.
Dengan masih banyaknya anak berstatus stunting di
Kota Cimahi, Dicky berkomitmen untuk memerangi stunting. Komitmen tersebut
diwujudkan dalam tindakan nyata, di antaranya dengan membentuk Tim Pendamping
Keluarga (TPK) sebanyak 1.314 orang yang bertugas mendampingi keluarga berisiko
stunting yaitu catin, ibu hamil, ibu nifas dan baduta (bayi di bawah dua tahun)
di wilayah kerjanya masing-masing.
Kunci pencegahan dan penanganan stunting adalah di 1000 hari pertama kehidupan, sehingga perhatian kepada ibu hamil dan baduta sangat lah penting. Oleh karenanya pembinaan kepada calon pengantin yang ditindaklanjuti dengan pendampingan kesiapan menikah dan hamil kepada calon pengantin menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Menurut Dicky, ada beberapa hal harus dipersiapkan
oleh calon pengantin, yaitu kesehatan reproduksi, kesehatan keluarga dan cara
hidup berkeluarga, serta ekonomi keluarga. Selain itu pasangan calon pengantin
harus memiliki kesehatan lahir dan batin yang baik. Calon pengantin juga wajib
memahami soal pola asuh yang tepat untuk mencegah lahirnya anak stunting.
“Upaya penurunan stunting tidak dapat dilakukan
secara instan, namun baru dapat terlihat dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Namun demikian, upaya dalam mengurangi tingkat prevalensi stunting harus
menjadi prioritas dan mendapatkan perhatian khusus,” tandas Dicky menutup
sambutannya.