CIMAHI.- Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira menyebutkan kemunculan wirausaha bisa menjadi solusi untuk mengikis masalah pengangguran. Untuk itu, Pemkot Cimahi berkomitmen menciptakan wirausaha baru.
"Kalau produktif kan harus banyak kegiatan di bidang ekonomi, di bidang wirausahawan baru, karena dengan banyaknya wirausaha baru di Kota Cimahi artinya harusnya tingkat penganggurannya menurun," kata Adhitia, Selasa (3/6/2025).
Seperti diketahui, berdasarkan data yang dirilis dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kota Cimahi tahun 2024 mencapai 8,97 persen atau 27.979 jiwa. Angka itu mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Adhitia mengatakan berdasarkan data terakhir, kewirausahaan yang masuk skala usaha minimum kecil dan menengah (UMKM) di Kota Cimahi mencapai 5.000 yang sudah memiliki nomor induk berusaha (NIB). Baik di bidang kuliner, fesyen, kerajinan, animasi dan lainnya.
"Kalau UMKM saja udah 5.000 yang sudah ber-NIB dan banyak yang masih antre proses legalitas PIRT dan lain sebagainya kaitan dengan perizinan," ucap Adhitia.
Dia mengatakan, kehadiran wirausaha baru khususnya UMKM bisa menjadi penyelamat ditengah ketidakpastian iklim perekonomian akibat perang dagang negara-negara besar. Termasuk untuk mengentaskan masalah pengangguran.
"Kita sedang mengalami yang namanya polatile perekonomian, ketidakpastian akibat adanya perang dagang di negara besar dan itu berdampak buat negara berkembang. Menjawab ketidakpastian itu harus masuk ke sektor mikro, kecil dan menengah makannya fokus di wirausaha tadi yang bisa menyelamatkan," pungkas dia.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Cimahi menyebutkan, jumlah tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kota Cimahi tahun 2024 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
"Jadi memang ada penurunan kalau dari angka ini, penurunan terbesar se-Jawa Barat. Tahun 2023 kan10,52 atau 33.192 jiwa," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Cimahi, Asep Jayadi.
Masalah pengangguran ini, kata dia, menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah ditengah minimnya peluang kerja di Kota Cimahi. Hal itu dikarenakan bisnis industri di Kota Cimahi terdampak ekonomi global.
"Sulit rekrutmen, sangat terbatas di Kota Cimahi, apalagi situasi garmen dan tekstil di situasi global. Ada perusahaan yang mengurangi jam kerja dan sebagainya karena sepi order," ujar Asep.
Pihaknya, kata dia, saat ini fokus untuk meningkatkan kompetensi para pekerja di Kota Cimahi bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja (BLK). Hasilnya, kata dia, sudah banyak warga yang mengikuti pelatihan yang diterima di berbagai perusahaan.
"Alhamdulillah program yang kami laksanakan, peningkatan kompetensi, diberikan sertifikat dan langsung penempatan kerja," ucap Asep.***