Loading...

Pembuangan di TPA Sarimukti Dibatasi, Pemkot Cimahi Ingatkan Warganya Pilah Sampah

Rano Hardiana 03 Oktober 2025 1395 kali dilihat
Bagikan:
Pembuangan di TPA Sarimukti Dibatasi, Pemkot Cimahi Ingatkan Warganya Pilah Sampah
CIMAHI.- Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi melalui Dinas Lingkungan Hidup mengingatkan warganya untuk menerapkan pemilahan sampah sejak dari rumah. Kelurahan pun diminta lebih aktif terjun ke masyarakat untuk memberikan edukasi pemilahan sampah.

"Kepada masyarakat ayo bareng-bareng pilah sampah. Konsep itu setidaknya akan membantu kami dalam mengelola sampah ini," imbuh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, Rabu (2//10/2025).

Menurut Rini, sapaan Chanifah Listyarini, penerapan memilah sampah sejak dari sumber akan membantu pemerintah dalam mengelola sampah. Apalagi saat ini ada konversi pembuangan sampah dari ritase ke tonase di tempat pembuangan sampah (TPS) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat.

Pembatasan pembuangan sampah itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Nomor: 6174/PBLS.04/DLH perihal Peringatan dan Pembatasan Pembuangan Sampah ke TPPAS Regional Sarimukti. Terbaru, pembatasan dihitung per dua pekan sekali.

Kuota untuk Kota Bandung dalam surat edaran itu maksimal maksimal 981,31 ton per hari, sehingga jika diakumulasikan selama dua pekan atau 14 hari menjadi maksimal 13.738,34 ton. Kemudian Kota Cimahi Kota Cimahi maksimal 119,16 ton per hari atau 1.668,24 per dua minggu, Kabupaten Bandung maksimal 280,37 ton per hari atau 3.925,18 ton per dua minggu dan Kabupaten Bandung Barat maksimal 119,16 ton per hari 1.668,24 ton per dua minggu.

"Iya memang ada beberapa penumpukan, tidak bisa dihindari. Ini kan ada konversi dari ritase menjadi tonase yang berdampak terhadap sampah yang dibuang dari Kota Cimahi," kata dia.

Rini mengatakan, pembatasan yang polanya berganti dari ritase ke tonase ini secara perhitungan mengurangi volume sampah yang dibuang dari Kota Cimahi ke TPA Sarimukti.

"Memang jadi chaos itu semenjak adanya timbangan. Ketika masih pakai ritase kami kan dapat 17 rit per hari, sekarang kalau dirata-ratakan hanya 13-14 rit karena harus menyesuaikan dengan jatah tonase harian yang dihitung per dua minggu. Beberapa kali truk kami harus putar balik karena kuotanya habis," beber Rini.***