CIMAHI - Mahalnya harga plastik imbas meningkatnya geopolitik di Timur Tengah berdampak terhadap kebiasaan menabung sampah di Bank Sampah Induk Cimahi alias Samici di Kota Cimahi, Jawa Barat. Ada penurunan setoran semua jenis sampah jenis plastik dalam tiga bulan terakhir baik dari nasabah kelompok atau Bank Unit Sampah (BSU) maupun individu.
Berdasarkan data yang dihimpun Bank Samici, di Januari 2026 total semua jenis sampah plastik yang disetorkan nasabah mencapai 27.517,9 kilogram dan khusus kresek ada 959,5 kilogram. Kemudian penerimaan sampah plastik yang ditabungkan itu turun di Februari menjadi 23.050,6 kilogram khusus sampah kresek jadi 710,5 kilogram serta turun lagi di Maret menjadi 22.619,5 kilogram dan khusus kresek jadi 647,1 kilogram.
"Penyetoran sampah plastik baik dari Bank Sampah Unit maupun dari masyarakat sekitar itu terjadi penurunan. Kan kita rekapnya bulanan, jadi dari Januari sampai Maret itu terus turun," kata Koordinator Bank Samici, Dewi Eriyanti saat ditemui di Bank Samici, Jalan KH Usman Dhomiri, Kota Cimahi, Jumat (17/4/2026).
Menurut Dewi, turunnya setoran tabungan sampah jenis itu dikarenakan berkurangnya pemakaian masyarakat terhadap plastik khususnya kresek sekali pakai. Kondisi itu dipicu harga semua jenis plastik yang mengalami kenaikan imbas perang di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat dengan Iran.
"Tentu ada karena kenaikan harga plastik dari pasaran otomatis penggunan plastik juga berkurang. Dampaknya jadi penyetoran sampah plastik juga berkurang karena mungkin plastik bekas dipakai lagi untuk pewadahan dan lain-lain, jadi enggak sekali pakai," kata Dewi.
Dirinya mengatakan, adanya pembatasan penggunaan plastik sekali pakai imbas harga mahal ini tentunya akan berdampak positif terhadap lingkungan. Sebab, produksi sampah plastik yang dihasilkan tentunya akan mengalami pengurangan.
"Bagus karena jadinya ada pengurangan sampah otomatis dengan meningkatnya harga plastik di pasaran. Sampah yang terbuang berkurang, tumpukkan sampah berkurang," kata dia.
Dewi melanjutkan, Bank Samici yang beroperasi sejak tahun 2014, tercatat sudah memiliki sekitar 2.500 nasabah. Baik nasabah Bank Sampah Unit (BSU) atau per kelompok maupun nasabah individu. "Nasabah ada sekitar 2.500 sampai tahun 2025. BSU itu ada sekitar 800 unit dan sisanya individu atau masyarakat. Tapi tidak semuanya aktif," terang Dewi.
Sejak awal tujuan dibangunnya Bank Samici untuk mengurai beban sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti. Dimana masyarakat diberikan edukasi untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Sebab, Bank Samici hanya menerima dan mengolah sampah jenis anorganik yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi nasabah.
Di antaranya 29 jenis plastik, logam 14 jenis, kertas 12 jenis, kaca diklasifikasi jadi tiga jenis, jenis barang elektronik 3 jenis, dan yang lainnya ada 5 jenis. Sampah dari nasabah BSU biasanya dilakukan penjemputan, sedangkan nasabah individu datang langsung ke Bank Samici untuk setor sampahny
"Nanti di sini kita pilah lagi, kemudian dilakukan pengepakan atau packing per jenisnya setelah itu baru kita jual," ujar Dewi.
Sebab tidak semua nasabah aktif, kata dia, Bank Samici kini hanya mengelola rata-rata 1,8 ton sampah anorganik setiap harinya. Meski harganya sedang mahal, namun Bank Samici memastikan tidak ada kenaikan nilai harga untuk setiap sampah plastik yang ditabungkan. Sampah nilainya paling terendah ialah jenis kaca Rp50 per kilogram, dan paling tinggi jenis almunium Rp11.000 per kilogram.
Sampah-sampah yang ditabung di Bank Samici itu tentunya menghasilkan uang bagi nasabahnya. Dewi membeberkan, ketika masih menggunakan sistem menabuh sepenuhnya, saldo nasabah BSU pernah ada yang menyentuh Rp17 juta. Sedangkan untuk nasabah individu menyentuh jutaan rupiah.
"Kalau sekarang kita udah enggak pake sistem full tabungan. Jadi misalnya hari ini nabung sampah, dua hari kemudian langsung dicairkan kepada nasabah secara transfer," kata dia.
Dewi melanjutkan, meskipun belum optimal untuk mengelola sampah, namun keberadaan Bank Samici ini sedikitnya menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan sampah di Kota Cimahi. Pihaknya akan lebih masif lagi melakukan edukasi dan sosialisasi agar masyarakat melakukan pemilahan sampah.
"Kita akan sosialisasi lagi kepada masyarakat, sekolah dan lainnya supaya memilah sampah. Karena sampah kalau dipilah nanti bisa memiliki nilai ekonomi. Salah satu caranya dikirim ke kami untuk yang anorganik," pungkas Dewi. (Bidang IKPS)**