CIMAHI -- Masalah sampah menjadi tantangan besar bagi Kota Cimahi, Jawa Barat. Bukan hanya mencemari lingkungan, sampah juga mengancam kesehatan hingga kerap memicu banjir serta merusak estetika kota.
Sejak ditutupnya TPA Leuwigajah di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan tahun 2005 akibat longsor maut, Kota Cimahi praktis mengandalkan TPA Sarimukti di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) untuk menampung sampah yang volume rata-rata setiap harinya sekitar 230-250 ton.
Kota Cimahi harus berbagi dengan Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat yang sama-sama membuang sampah ke TPA Sarimukti. Berbagai upaya pun dilakukan Pemkot Cimahi untuk mengikis ketergantungan ke tempat pembuangan sampah regional itu.
Solusi di antaranya dihadirkan lewat Bank Sampah Induk Cimahi alias Samici. Beroperasi sejak tahun 2014, Bank Samici yang berada di Jalan KH Usman Dhomiri, Padasuka itu tercatat sudah memiliki sekitar 2.500 nasabah. Baik nasabah Bank Sampah Unit (BSU) atau per kelompok maupun nasabah individu.
"Nasabah ada sekitar 2.500 sampai tahun 2025. BSU itu ada sekitar 800 unit dan sisanya individu atau masyarakat. Tapi tidak semuanya aktif," kata Koordinator Bank Samici, Dewi Eriyanti, (9/2/2025
Sejak awal tujuan dibangunnya Bank Samici untuk mengurai beban sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti. Dimana masyarakat diberikan edukasi untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Sebab, Bank Samici hanya menerima dan mengolah sampah jenis anorganik yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi nasabah.
Di antaranya 29 jenis plastik, logam 14 jenis, kertas 12 jenis, kaca diklasifikasi jadi tiga jenis, jenis barang elektronik 3 jenis, dan yang lainnya ada 5 jenis. Sampah dari nasabah BSU biasanya dilakukan penjemputan, sedangkan nasabah individu datang langsung ke Bank Samici untuk setor sampahny
"Nanti di sini kita pilah lagi, kemudian dilakukan pengepakan atau packing per jenisnya setelah itu baru kita jual," ujar Dewi.
Sebab tidak semua nasabah aktif, kata dia, Bank Samici kini hanya mengelola rata-rata 1,8 ton sampah anorganik setiap harinya. Sampah nilainya paling terendah ialah jenis kaca Rp50 per kilogram, dan paling tinggi jenis almunium Rp11.000 per kilogram.
Sampah-sampah yang ditabung di Bank Samici itu tentunya menghasilkan uang bagi nasabahnya. Dewi membeberkan, ketika masih menggunakan sistem menabuh sepenuhnya, saldo nasabah BSU pernah ada yang menyentuh Rp17 juta. Sedangkan untuk nasabah individu menyentuh jutaan rupiah.
"Kalau sekarang kita udah enggak pake sistem full tabungan. Jadi misalnya hari ini nabung sampah, dua hari kemudian langsung dicairkan kepada nasabah secara transfer," kata dia.
Dewi melanjutkan, meskipun belum optimal untuk mengelola sampah, namun keberadaan Bank Samici ini sedikitnya menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan sampah di Kota Cimahi. Pihaknya akan lebih masif lagi melakukan edukasi dan sosialisasi agar masyarakat melakukan pemilahan sampa
"Kita akan sosialisasi lagi kepada masyarakat, sekolah dan lainnya supaya memilah sampah. Karena sampah kalau dipilah nanti bisa memiliki nilai ekonomi. Salah satu caranya dikirim ke kami untuk yang anorganik," imbuhnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi Chanifah Listyarini mengatakan, Bank Samici menjadi salah satu upaya pihaknya dalam melakukan pengelolaan sampah. Harapannya, bank sampah itu ada di setiap RW sehingga tentu saja akan mengurangi beban sampah yang dibuang ke TPA Sarimukt
Apalagi Pemkot Cimahi saat ini sedang dihadapkan dengan adanya pembatasan di TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat (KBB) berdasarkan Surat Edaran (SE) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Nomor: 6174/PBLS.04/DLH perihal Peringatan dan Pembatasan Pembuangan Sampah ke TPPAS Regional Sarimukti. Pembatasan dihitung per dua pekan sekali.
Kuota untuk Kota Cimahi Kota Cimahi maksimal 119,16 ton per hari atau 1.668,24 per dua minggu. Bahkan pekan ini, ungkap Rini, terjadi kendala teknis di TPA Sarimukti yang membuat pengangkutan sampah menjadi terhambat.
Selain bank sampah, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Santiong di Jalan Kolonel Masturi, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi juga akan ditambah kapasitas produksinya dari 50 menjadi 80-85 ton per hari. Penambahan kapasitas dengan uprgade peralatan dilakukan melalui Program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities (ISWMP) yang didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Bank Dunia (World Bank)
"Jadi kita akan tingkatkan kapasitasnya. Kami inginnya 100 tapi dari Kemen PU diangka 80 ton yang awalnya 50 ton kapasitas pengolahannya. Sekarang operasional belum optimal, baru 5-10 ton aja," kata Chanifah.